keyboard_arrow_right
keyboard_arrow_right
Paparkan Food Energy Nexus di IPB University, Prof Lim dari Korea Ungkap Butuh Tujuh Liter Air untuk Hasilkan Energi
Pendidikan

Paparkan Food Energy Nexus di IPB University, Prof Lim dari Korea Ungkap Butuh Tujuh Liter Air untuk Hasilkan Energi

Paparkan Food Energy Nexus di IPB University, Prof Lim dari Korea Ungkap Butuh Tujuh Liter Air untuk Hasilkan Energi

Paparkan Food Energy Nexus di IPB University, Prof Lim dari Korea Ungkap Butuh Tujuh Liter Air untuk Hasilkan Energi
Paparkan Food Energy Nexus di IPB University, Prof Lim dari Korea Ungkap Butuh Tujuh Liter Air untuk Hasilkan Energi

Profesor Song Soo Lim dari Universitas Korea paparkan food-energy nexus untuk masa depan

yang berkelanjutan di depan mahasiswa dalam IPB University Talks di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Kampus Dramaga Bogor (21/8).

Semakin meningkatnya populasi di dunia maka kebutuhan pangan juga turut meningkat sehingga produktivas pun harus dinaikkan. Kenaikan produktivitas ini akan berdampak pada pemakaian jumlah air dan juga energi. Kesinambungan antara ketiga rantai inilah yang disebut dengan nexus energi makanan.

“Namun pada faktanya, dunia sedang memerangi krisis air, lahan, dan energi.

Energi yang dibutuhkan manusia semakin bertambah. Untuk memproduksi satu energi saja dibutuhkan tujuh liter air. Berangkat dari permasalahan tersebut, muncul beragam inovasi untuk memproduksi makanan di dalam lingkungan yang tidak mendukung. Korea tidak memproduksi petroleum, lalu bagaimana agar dapat mencukupi kebutuhan energi? Kami menemukan cara yaitu memanfaatkan energi panas bumi. Energi ini yang akan disalurkan pada rumah kaca untuk memproduksi kebutuhan makanan,” ujar Prof Lim.

Menurutnya Indonesia adalah negara yang kaya. Pertanian akan selalu menjadi tulang

punggung dari perekonomian suatu negara. Tidak ada negara kaya yang menelantarkan pertaniannya. Indonesia memiliki banyak sekali potensi yang dapat dikembangkan, sehingga sudah menjadi tugas generasi muda terus berinovasi.

“Membeli produk lokal juga lebih baik untuk lingkungan. Ketika produk yang dibeli berasal dari tempat yang sama atau dekat, maka energi yang terpakai untuk pengiriman semakin kecil. Tapi sudah jadi tugas kalian (mahasiswa) untuk mencari cara agar hasil pertanian Indonesia dapat diekspor dengan inovasi yang baru,” terangnya

 

Baca Juga :