keyboard_arrow_right
keyboard_arrow_right
Sekolah Bukanlah Bengkel; Yuk, Perbaiki Mindset Kita!
Pendidikan

Sekolah Bukanlah Bengkel; Yuk, Perbaiki Mindset Kita!

Sekolah Bukanlah Bengkel; Yuk, Perbaiki Mindset Kita!

Seorang tetangga bercerita bahwa tujuan dirinya mengirimkan anaknya ke sekolah atau madrasah tertentu adalah supaya kenakalan anaknya mampu hilang. Ini adalah alasan yang terlalu enteng dipahami.

Tujuan berikut sebenarnya wajar dan banyak dibutuhkan. Akan tetapi, tujuan ini kecuali dipercayai oleh semua pihak sebagai kebutuhan, maka berakibat terlalu tidak baik. Jika orangtua berkeyakinan layaknya itu, maka serupa halnya dengan berkeyakinan bahwa anaknya sepanjang ini mempunyai masalah dan wajib diobati. Padahal, di dalam masa belajar, kekeliruan memilih sikap merupakan sistem menuju kematangan.

Lebih mengkuatirkan lagi kecuali kepercayaan pada tujuan layaknya di atas dimiliki oleh seorang guru.

Jika seorang guru berkeyakinan bahwa tugasnya adalah mengemukakan materi dan melakukan perbaikan sikap anak saja, maka guru condong berpikir “mengobati”. Jika tersedia anak yang susah konsentrasi, maka guru bakal menyimpulkan bahwa anak berikut kebanyakan main, kurang perhatian dari orangtuanya, dan tidak punya tanggung jawab.

Jika tersedia anak yang puas membully temannya, maka kejadian-kejadian negatif bakal dicari dan dihubungkan sebagai penyebab perilakunya tersebut. Bahkan, kecuali tersedia seorang anak yang terlalu berambisi dan berapi-api, maka guru condong mencurigainya. Jangan-jangan orangtuanya terlalu menghimpit anaknya kecuali gagal dan nilainya jelek.

Jika tetap tersedia kepercayaan layaknya di atas, maka itulah dampak dan hasil dari doktrin psikologi abad ke-20. Ya, itulah “psikologi negatif” yang salah satu kegiatan besarnya adalah mengatasi penyakit mental. Kelemahan manusia menjadi titik fokus utama.

Dengan demikian, di dalam pandangan psikologi abad ke-20, kekuatan saing Bill Gates sebenarnya berasal dari keinginannya untuk melebih ayahnya dan usaha Putri Diana menentang pemanfaatan ranjau darat semata-mata merupakan hasil sublimasi (penghalusan) dari kebenciannya yang mendalam pada pangeran Charles dan keluarga kerajaan lainnya.

Alih-alih berpikir bahwa kekuatan saing Bill Gates dan tujuan Putri Diana adalah berasal dari ketulusan hatinya untuk lakukan kebajikan dan menggapai kebahagiaan yang lebih besar yaitu berbagi dengan sesama, psikologi negatif memandangnya secara sinis.

Yuk, kami berubah. Keyakinan kami bicara bahwa tiap-tiap manusia dilahirkan di dalam situasi suci. Dan sebenarnya arah psikologi udah berubah. Ya, sejak Martin E.P. Seligman meneguhkan “psikologi positif”. Menurutnya, tidak tersedia secuil pun bukti bahwa kapabilitas dan kebajikan berasal dari semangat negatif.

Ingat, tugas guru bukan melulu melakukan perbaikan kekurangan siswa, bakal tetapi lebih kepada menumbuhkan harapan, membangun kapabilitas emosi positif, mengembangkan bakat, dan menumbuhkan cinta. Itulah psikologi positif. Tidak layaknya emosi negatif yang mempersempit kapabilitas menghadapi ancaman, emosi positif justru menyokong pertumbuhan.

Kita wajib yakin bahwa emosi positif terlalu berlimpah pada anak-anak karena ini adalah masa mutlak untuk memperluas dan membangun kapabilitas kognitif, sosial, dan fisik.

Mulai waktu ini, kecuali tersedia anak didik yang susah konsentrasi waktu belajar di kelas, jangan tergesa-gesa menyalahkan keluarganya apalagi menyalahkan anak tersebut. Mulailah berpikir, apakah aku dan sikap aku menimbulkan rasa cemas bagi anak. Apakah caraku udah menarik perhatiannya? Apakah aku udah menghormati diri dan usahanya? Dan seterusnya.

Sekolah terhitung wajib punya mindset yang sama. Sekolah yang hanya berpikir perihal hasil tes atau ujian serta tujuan materi ajar semata, maka bisa saja besar terlilit pada jenis psikologi negatif. Remedial diperbanyak, penambahan jam untuk pendalaman materi disempurnakan terus, dan mengukur kesuksesan anak berdasarkan nilai tes semata.

Tidak tersedia yang salah dengan tujuan itu. Boleh dan sah-sah saja. Akan tetapi, mari bergerak melengkapinya dengan suatu hal yang lebih baik yang lebih diperlukan dengan situasi waktu ini. Mari bergerak lebih untuk menumbuhkan kekuatan, mengembangkan bakat, menghormati keunikan tiap-tiap anak, dan memperkuat nilai-nilai kebaikan.

Sungguh, sekolah bukanlah tempat “rehabilitasi”. Sekolah bukanlah bengkel semata, tetapi terhitung tempat merakit dan mengembangkan suku cadang. Sekolah udah harusnya menjadi tempat tiap-tiap anak untuk mengembangkan kapabilitas unik dirinya, mengembangkan kebaikan, dan menciptakan keindahan hidup dengan orang-orang di sekitarnya.

Sumber : https://www.ruangguru.co.id/download-contoh-surat-penawaran-harga-yang-benar/