keyboard_arrow_right
keyboard_arrow_right
Pilih Menabung di Bank Konvensional atau Bank Syariah?
Pendidikan

Pilih Menabung di Bank Konvensional atau Bank Syariah?

Pilih Menabung di Bank Konvensional atau Bank Syariah?

Uang jajan yang kamu menerima sementara duduk di bangku SMP pastinya tidak sama dong dengan duwit jajan sementara kamu duduk di SMA? Nah, memang dengan naiknya duwit jajan yang kamu menerima itu, bisa aja nih kamu sisihkan buat menabung di bank. Kenapa sih penting buat menyisihkan duwit jajan untuk ditabung? Pentingnya itu kalau pas kamu kembali ingin membeli sesuatu, kamu nggak kudu minta duwit kembali ke orang tua kamu. Selain meringankan beban orang tua, kamu termasuk bisa menyebabkan mereka bangga loh.

Lalu, saat ini timbul nih, nabung itu enakan di bank atau di celengan? Kalau berkenan aman sih di bank ya Squad. Di bank itu banyak fitur yang bisa kita memakai lho. Mulai dari kartu ATM yang bisa kita memakai buat membeli sampai aplikasi perbankan di ponsel pandai yang pastinya banyak tawarkan kemudahan. Nah, kalau kamu sudah mengambil keputusan untuk menabung di bank, tinggal memilih deh berkenan menabung di bank konvensional atau bank syariah.

“Wah…bank termasuk banyak macam-macamnya ya?”

Cuma tidak sama komitmen kegiatannya aja kok. Fitur dan fasilitasnya nggak jauh berbeda. Supaya kamu lebih paham nih perihal perbedaan komitmen kegiatan bank konvensional dengan bank syariah, lihat artikel berikut ini ya.

1. Perbedaan Hukum yang Digunakan

Hukum yang digunakan oleh bank konvensional dan bank syariah itu nggak mirip lho Squad. Bank konvensional mempunyai proses yang berlandaskan terhadap terhadap hukum positif yang berlaku di suatu negara, dalam hal ini Indonesia ya Squad. Artinya begini Squad, pemilik dana di bank berkepentingan beroleh suku bunga tinggi. Namun, pemegang saham berkeinginan beroleh spread (selisih harga jual dan membeli saham) yang sesuai dengan suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman. Tapi di pihak ketiga, yaitu peminjam dana menginginkan suku bunga yang rendah tuh. Disinilah berjalan antagonisme gara-gara ketiga pihak berikut mempunyai target yang berbeda.

Kalau bank syariah mempunyai proses yang didasari terhadap syariat islam yang berlandas Al-Quran, Hadist, dan Fatwa Ulama (Majelis Ulama Indonesia). Beberapa proses transaksi terhadap bank syariah yang memakai perspektif hukum Islam di antaranya musyarakah (penyertaan modal), mudharabah (bagi hasil), murabahah (mengambil keuntungan dan tidak berbunga), ijarah (sewa-menyewa), ijarah wa iqtina (sewa dengan pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari bank ke pihak lain).

2. Perbedaan Investasi

Kalau kamu nanti menjadi entrepreneur tempat tinggal makan namun menu yang dihidangkan mempunyai kandungan hal yang dilarang dalam syariat Islam seperti olahan daging babi, alkohol, dan lain-lain, kamu dipastikan tidak bisa mengajukan utang ke bank syariah. Ini gara-gara bank syariah hanya memperkenankan dana yang dipinjam untuk usaha yang halal dan baik. Lain halnya kalau kamu mengajukan ke bank konvensional. Usaha yang tidak halal namun mempunyai nilai positif (dalam hal ini mempunyai faedah untuk penduduk di Indonesia), selamanya diterima dalam pengajuan pinjaman. Yaaa…tentunya dengan syarat dan ketentuan di bank tersebut.

3. Perbedaan Orientasi dan Pembagian Keuntungan

Orientasi terhadap bank konvensional selamanya menekankan keuntungan. Mau nggak berkenan kudu untungkan deh pokoknya, pantang mengenal kata rugi. Berbeda dengan proses bank syariah nih Squad. Orientasinya tidak cuman keuntungan termasuk mencermati kemakmuran dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat atas kerjasamanya.

Seteleh paham orientasinya, bagaimana dengan jatah keuntungan? Kalau bank konvensional itu menerapkan proses bunga yang selamanya (fixed) kepada nasabah yang meminjam uang. Artinya, bank konvensional selamanya menganggap bahwa usaha yang dilaksanakan oleh nasabah dapat selamanya untung. Bank nggak berkenan paham nih kerugian usaha kamu, yang paham di mata bank usaha kamu kudu selamanya untungkan terus.

Jika terhadap bank syariah, mereka selamanya mencermati mungkin untungkan atau rugi usaha yang dibiayainya tersebut. Jika dirasa tidak menguntungkan, bank syariah dapat menampik pengajuan utang yang nasabahnya. Dalam bank syariah, proses jatah keuntungan ini disebut dengan bagi hasil.

4. Perbedaan Pengawasan

Siapa yang mengawasi kegiatan perbankan di Indonesia? Bank Indonesia? Hmmm…lebih tepatnya sih OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Nah, kalau bank konvensional itu yang mengawasi hanya OJK dan hukum positif. Hmmm….pengen paham apa sih hukum positif itu?

Baca Juga :