keyboard_arrow_right
keyboard_arrow_right
Masjid, Nilai, Kearifan, Islam dan Budaya Lokal
Pendidikan

Masjid, Nilai, Kearifan, Islam dan Budaya Lokal

Masjid, Nilai, Kearifan, Islam dan Budaya Lokal

Masjid, Nilai, Kearifan, Islam dan Budaya Lokal
Masjid, Nilai, Kearifan, Islam dan Budaya Lokal

Masjid sebagai pusat peradaban islam

Masjid pada umumnya dipahami oleh masyarakat sebagai tempat ibadah khusus seperti shalat. Padahal masjid lebih luas daripada sekedar tempat shalat. Masjid dijadikan sebagai symbol persatuan umat islam. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi mendirikan masjid pertama, fungsi masjid masih kokoh dan orisinil sebagai pusat peribadatan dan peradaban. Masjid Al-Azhar di Mesir merupakan salah satu contoh yang sangat dikenal luas kaum muslimin indonesia. Masjid ini mapu memberikan beasiswa bagi para pelajar dan mahasiswa. Bahkan pengentasan kemiskinan pun merupakan program nyata masjid.

Tapi sangat disesalkan masjid kemudian mangalami penyempitan fungsi, apalagi adanya intervensi pihak-pihak tertentu yang menjadikan masjid sebagai alat untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Masjid hanya mengajari umat tentang baca tulis Al-qur’an tanpa pengembangan wawasan dan pemikira islami dan tempat belajar umat tentang ilmu fiqih ibadah, bahkan lebih sempit lagi yaitu ibadah praktis dari salah satu mahzab. Kita mungkin tidak akan menemukan masjid yang memiliki kegiatan yang terprogram secara baik dalam pembinaan keberagaman umat.

Pada pengembangan berikutnya muncul kelompok-kelompok yang sadar untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya. Kesadaran ke arah optimalisasi fungsi masjid kembali tumbuh terutama di kalangan para intelektual muda, khususnya para aktivis masjid. Kini mulai tumbuh kesadaran umat akan pentingnya peranan mesjid untuk mencerdaskan dan mensejahterakan jamaahnya. Meluasnya fungsi dan peranan masjid ini seiring dengan laju pertumbuhan umat islam di Indonesia, baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang tercermin dalam pertambahan jumlah penduduk muslim dan peningkatan jumla intelektual muslim yang sadar dan peduli terhadap peningkatan kualitas umat islam Dalam syariat islam masjid memiliki dua fungsi utama yaitu: pertama sebagai pusat ibadah ritual dan kedua berfungsi sebagai pusat ibadah sosial. Dari kedua fungsi tersebut titik sentralnya bahwa fungsi utama mesjid adalah sebagai pusat pembinaan umat islam.

  1. Nilai-nilai Islam dalam Budaya Indonesia

Islam masuk ke Indonesia lengkap dengan budayanya. Oleh karena itu Islam besar dari negeri Arab, maka Islam yang masuk ke Indonesia tidak terlepas dari budaya Arab. Pada awalnya masuknya dakwah islam ke Indonesia, dirasakan sangat sulit membedakan mana jaran islam dan mana budaya arab. Sebagaimana para wali di tanah jawa yang mendakwahkan ajaran islam melalui bahasa dan budaya. Lebih jauh lagi nilai-nilai islam sudah menjadi bagian yang tidak dapat di pisahkan dari kebudayaan mereka. Seperti upacara adat dan penggunaan bahasa sehari-hari. Istilah-istilah arab yang masuk ke dalam budaya jawa, seperti dalam pewayangan actor janoko yang tidak lain dalam bahasa Arab adalah jannaka. Empat sekawan semar, gareng, petruk, dan bagong merupakan produk personifikasi dari ucapan Ali Bin Abi thalib “itsmar khairan,fatruk ma bagha”(berbuatlah kebaikan, tinggalkan perbuatan sia-sia). Dan masih banyak lagi istilah-istilah dalam bahasa arab lainnya, yang diadopsi menjadi bahasa indonesia.

  1. Islam dan Budaya Lokal

Sebagai salah satu agama yang universal, risalah islam ditunjukan untuk semua umat manusia, segenap ras, dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat. Universalisme islam menampakkan diri dalam berbagai manifestasi penting, dan yang terbaik adalah dalam ajaran-ajarannya.ajaran-ajaran islam yang mencakup aspek akidah, syari’ah dan akhlak, menampakkan perhatiannya yang sangat besar terhadap persoalan utam kemanusiaan. Hal ini dapat dilihat dari lima tujuan umum syari’ah yaitu; menjamin keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan, harta. Selain itu risalah islam juga menampilkan nilai-nilai kemasyarakatan (social values) yang luhur, yang biasa dikatakan sebagai tujuan dasar syari’ah yaitu’ keadilan, ukhuwwah (persaudaraan), takaful(jaminan keselamatan), kebebasan dan kehormatan. Semua ini akhirnya bermuara pada keadilan sosial dalam arti sebenarnya. Refleksi dan manifestasi kosmopolitanisme islam bias dilacak dalam etalase sejarah kebudayaan sejak rasulullah, baik dalam format non material sepertimkonsep-konsep pemikiran,maupun yang material seperti arsitektur bangunan dan sebagainya.

Walaupun demikian , menurut Ibnu Khaldun, abhwa diantara hal aneh tapi nyata bahwa mayoritas ulama dan cendekiawan dalam sejarah perkembangan islam adalah‘ajam(non arab). Maka jadilah ilmu-ilmu ini semua ilmu-ilmu keterampilan yang membutuhkan pengajaran. Begitu juga iintelektual-intelektual dalam bidang hadits, ushul fiqih, ilmu kalam dan tafsir. Dari paparan di atas, menunjukkan kepada kita betapa kebudayaan dan peradaban islam dibangun di atas kombinasi nilai ketaqwaan (Q.S al-Hujurat:13), persamaan dan kreativitas dari jiwa islam yang universal (Q.S al-Mulk:2) dengan akulturasi timbal balik dari budaya-budaya local luar arab yang terislamkan, tanpa harus mempertentangkan antara Arab dan non Arab.

  1. Local Wisdom (Kearipan Lokal)

Gagasan pribumisasi Islam, secara genelogis dilontarkan pertama kali oleh Abdurahman Wahid pada tahun 1980an. Dalamg ‘Pribumisasi Islam’ tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Inti ‘Pribumisasi Islam’ adalah kebutuhan, bukan untuk menghindari polarisasi antara agama dan budaya, sebab polarisasi demikian memang tidak terhindarkan.Pribumisasi Islam telah menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan, melainkan berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuknya yang otentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya. ‘Pribumisasi Islam’ justru memberi keanekaragaman interpretasi dalam praktek kehidupan beragama (Islam) di setiap wilayah yang berbeda-beda. Dengan demikian, Islam tidak lagi dipandang secara tunggal, melainkan beraneka ragam. Tidak ada lagi anggapan Islam yang di Timur Tengah sebagai Islam yang murni dan paling benar, karena Islam sebagai agama mengalami historitas yang terus berlanjut.

‘Islam Pribumi’ sebagai jawaban dari Islam otentik mengandaikan tiga hal. Pertama, ‘Islam Pribumi’ memiliki sifat kontekstual, yakni dipahami sebagai ajaran yang terkait dengan konteks zaman dan tempat. Perubahan waktu dan perbedaan wilayah menjadi kunci untuk menginterpretasikan ajaran. Dengan demikian, Islam akan mengalmi perubahan dan dinamika dalam merespons perubahan zaman. Kedua, ‘Islam Pribumi’ bersifat progresif, yakni kemajuan zaman bukan dipahami sebagai ancaman terhadap penyimpangan ajaran dasar agama (Islam), tetapi dilihat sebagai pemicu untuk melakukan respons kreatif secara intens. Ketiga, ‘Islam Pribumi’ memiliki problem-problem kemanusiaan secara universal tanpa melihan perbedaan agama dan etnik. Dengan demikian, Islam tidak kaku dan rigid dalam menghadapi realitas sosial masyarakat yang selalu berubah. Sejak kehadiran Islam di Indonesia, para ulama telah mencoba mengadopsi kebudayaan lokal secara selektif. Kalangan ulama Indonesia telah berhasil mengintegrasikan antara keislaman dan keindonesiaan, sehingga apa yang ada di daerah ini telah dianggap sesuai dengan nilai Islam, karena Islam menyangkut nilai dan norma, bukan selera atau ideologi apalagi adat.

Berbeda dengan agama lain, Islam masuk Indonesia dengan begitu elastis. Baik itu yang berhubungan dengan pengenalan simbol-simbol Islami (misalnya bentuk bangunan peribadatan) atau ritus-ritus keagamaan (untuk memahami nilai-nilai Islam). Inilah pribumisasi Islam yang dilakukan para penyebar Islam di tanah air, khususnya para Wali Songo di Jawa, yang menggunakan media budaya sebagai sarana mendakwahkan Islam. Dengan langkah persuasif ini, terbukti Islam bisa diterima dengan baik sebagai agama baru setelah sebelumnya penduduk lokal menganut animisme, dinamisme atau Hindu Budha selama bertahun-tahun lamanya.Yang patut diamati pula, kebudayaan populer di Indonesia banyak sekali menyerap konsep-konsep dalam simbol-simbol Islam, sehingga seringkali tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber kebudayaan yang penting dalam kebudayaan populer di Indonesia.

Baca Artikel Lainnya: