keyboard_arrow_right
keyboard_arrow_right
Kecerdasan Emosional
Pendidikan

Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosional
Kecerdasan Emosional

Kandungnya lebih banyak, lebih kompleks, dan lebih halus daripada kata yang digunakan untuk menjelaskan emosi. Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun ia mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu:

  1. Amarah; didalamnya meliputi beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
  2. Kesedihan; di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
  3. Rasa Takut; di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, tidak tenang, ngeri, kecut, panik dan pobia.
  4. Kenikmatan; di dalamnya meliputi bahagia, gembira, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, takjub, terpesona, puas, girang, senang sekali dan mania.
  5. Cinta; di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kasih sayang.
  6. Terkejut; di dalamnya meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
  7. Jengkel; didalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah.
  8. Malu; di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

Definisi Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasanan hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, dan berempati. Menurut Steven J Stein dan Howard E. Book kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan nonkognitif yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan[17].

 

Keterampilan kecerdasan emosi bekerja secara sinergi dengan keterampilan kognitif.

Makin kompleks pekerjaan, makin penting kecerdasan emosi. Emosi yang lepas kendali dapat membuat orang pandai menjadi bodoh. Tanpa kecerdasan emosi, orang tidak akan mampu menggunakan kemampuan kognitif mereka sesuai dengan potensi yang maksimum. Penyebab manusia tidak mencapai potensi maksimum adalah ketidakterampilan emosi.

 

Kecerdasan emosional mulai diperhatikan secara meluas setelah publikasi hasil karya Daniel Goleman

pada tahun 1995 yang berjudul “Emotional Intelligence: Why it Can Matter More Than IQ”. Menurut Goleman tes IQ hanya berhubungan dengan kemampuan verbal dan matematika, dan mengabaikan kemungkinan yang lain seperti hubungan antara pikiran dan perasaan, yang merupakan hubungan ataran aspek intelektual dan emosional. Para ahli terus mengingatkan bahwa proses pendidikan jangan hanya memfokuskan kepada faktor intelektual seperti yang dikemukakan krishnamurti dalam Carol Hall[18]:

 

Terdapat sesuatu yang lebih tinggi dan lebih luas pengaruhnya terhadap kehidupan

nilai yang belum kita temukan dalam pendidikan kita? Kita mungkin berpendidikan tinggi, akan tetapi jika tidak memiliki ikatan yang kuat antara pikiran dan perasaan kita, kehidupan kita tidak lengkap, terdapat kontradiksi dan tersobek dengan banyak ketakutan, selama pendidikan tidak menggali pandangan yang menyeluruh tentang kehdupan, pengaruhnya akan sangat sedikit.

 

Seseorang yang memiliki IQ saja belum cukup, yang ideal adalah

IQ yang dibarengi dengan EQ yang seimbang. Pemahaman yang didukung oleh Goleman yang dikutip oleh Patton, bahwa para ahli psikologi sepakat akalu IQ hanya mendukung sekitar 20 persen faktor yang menentukan keberhasilan, sedangkan 80 persen sisanya berasal dari faktor lain termasuk kecerdasan emosional. Pada tabel berikut dapat dilihat pendapat para ahli tentang EQ.

Baca Juga :