keyboard_arrow_right
keyboard_arrow_right
Jangan Mendiamkan Siswa! Rugi
Pendidikan

Jangan Mendiamkan Siswa! Rugi

Jangan Mendiamkan Siswa! Rugi

Efektif namun rugi. Ya, ketika anda seorang guru dan ketika menghadapi siswa yang ribut atau ngobrol sendiri-sendiri, umumnya reflek yang bakal berjalan adalah anda berteriak…

“Diam…..”

“Yang gak dapat diam, silahkan muncul kelas”

“Hitungan sampai tiga, yang nggak diam, maju ke depan!”

Dan seterusnya…

Bentakan dan ancaman layaknya itu amat ampuh. Otomatis didalam saat itu juga siswa bakal diam. Tapi ingat, diamnya anak didalam kondisi layaknya ini amat merugikan. Unsur terbesar yang merugikan adalah keterpaksaan, ketakutan, dan keperluan sesaat.

Ketika kita—sebagai guru—menginginkan siswa diam agar mendengarkan kita, maka yang semestinya studi tentang proses itu adalah siswa. Kepentingan itu sebetulnya bukanlah keperluan guru. Sayangnya, mendiamkan siswa bersama kalimat ancaman atau bentakan seringkali muncul sebagai bukti kekuatan seorang guru. Bahkan, muncul pula sebagai bentuk intimidasi pada siswa.

Kalau anak diam bersama cara itu, amat sedikit yang anak dapatkan. Anak bakal studi bahwa orang dewasa kudu ditakuti, dan jika tidak diikuti maka bahaya bakal mengancam. Kondisi ini dapat menghidupkan perlawanan. Bukannya kesadaran yang kami dapatkan, melainkan ejekan dan perlawanan di belakang kita.

Jika menghadapi siswa yang “berisik”, maka jangan tergesa-gesa mendiamkannya. Kenapa kata “berisik” saya tulis memakai tanda petik? Karena, tersedia kelas yang “berisik” namun amat positif. Mereka membincangkan projek kerja kelompok. Sebaliknya, seringkali ukuran siswa baik adalah mereka yang duduk melipat tangan di meja selanjutnya diam dan tidak “berisik”.

Guru mendiamkan siswa, memiliki kerugian. Anak yang selalu diam atau teratur pas gurunya berteriak atau mengeluarkan ancaman, maka anak bakal konsisten bergantung pada kalimat tersebut. Jika kalimat tersebut tidak keluar, maka anak termasuk tidak diam. Bisa juga, jika bukan orang yang sering membentak yang berkata maka anak menganggapnya boleh “berisik”. Ketergantunganlah kerugiannya.

Mari studi menciptakan kondisi agar siswa yang berinisiatif diam sendiri ketika tersedia guru sedang berbicara. Biarkan siswa yang menyita tanggung jawab. Jangan ambil tanggung jawab itu dari siswa. Biarkan siswa yang menyita ketetapan untuk studi saling menghargai orang lain yang sedang berbicara.

Fokuskan pada keperluan jangka panjang bahwa anaklah yang kudu belajar, kudu menyita inisiatif dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Baca Juga :