keyboard_arrow_right
keyboard_arrow_right
Dua Alasan Tulisan Bertema Politik Lebih Laku Dan Dampaknya Dalam Dunia Pendidikan
Pendidikan

Dua Alasan Tulisan Bertema Politik Lebih Laku Dan Dampaknya Dalam Dunia Pendidikan

Dua Alasan Tulisan Bertema Politik Lebih Laku Dan Dampaknya Dalam Dunia Pendidikan

Whatsapp dan facebook mencatat kurang lebih 30 miliar pesan yang mereka kirim masing-masing setiap harinya. Belum kembali sarana sosial yang lain (youtube, instagram, dll). Inilah era gempuran teks, gambar dan video yang memikat, menyihir, sekaligus membahayakan.

Salah seorang pemerhati pendidikan negeri ini pernah laksanakan pengamatan kecil-kecilan tentang tulisan-tulisan yang beredar di sarana sosial. Hasilnya, tulisan yang bermuatan politis lebih cepat memperoleh respon (like dan share) ketimbang tulisan bertema yang lain.

Setidaknya ada dua alasan kenapa perihal ini dapat terjadi.

Pertama, alasan “perhatian”.

Daniel Goleman mengamati bahwa ada dua wujud utama pengalih perhatian, yaitu sensoris dan emosional. Pengalih perhatian sensoris lebih berupa inderawi, namun pengalih perhatian emosional lebih mengintimidasi dan memikat perhatian kita.

Ketika kami hadapi luberan informasi, baik lewat berita televisi maupun sarana sosial, maka perhatian mendalam kami terhadap satu perihal jadi menipis. Perhatian kami menjadi kepada banyak perihal di dalam saat bersamaan. Melihat, membaca, dan mencerna bersama dengan cepat puluhan informasi di dalam saat singjat. Inilah sebetulnya yang di tahun 1977 pernah diingatkan oleh pemenang nobel, Herbert Simon, bersama dengan memperingatkan bahwa “luberan informasi menciptakan kemiskinan atensi”.

Saat kami membaca blog, buku, atau sebuah cerita, maka pikiran kami bakal membangun jaringan di dalam otak supaya mengenai bersama dengan informasi lain yang serupa untuk membangun nalar pengetahuan. Namun, gempuran teks, video, gambar, dan banyak variasi pesan yang kami dapatkan secara online menjadikan otak kami melompat-lompat berasal dari satu tema ke tema yang lain bersama dengan cepat dan berganti-ganti. Kadang-kadang kami cuma membaca judulnya saja, dua paragraf pertama, dan video yang durasinya tidak cukup berasal dari tiga menit.

Nah, saat membaca tulisan yang isinya menyentuh emosi kita, maka perhatian jadi besar. Perhatian ini jadi meningkat dua kali lipat atau bahkan lebih saat tulisan selanjutnya datang berasal dari gejolak emosi yang mengenai segera bersama dengan atau menimpa kehidupan kita.

Tanda-tandanya sederhana, terkecuali berasal dari informasi atau tulisan spesifik kami merasakan kepuasan atau memperoleh pembenaran atas emosi yang kami alami dan membenci sebaliknya, maka di situlah faktor emosional bekerja.

Hal ini dapat bersama dengan gampang menerobos masuk ke emosi kami dikarenakan alasan yang benar-benar bagus. Dalam pengamatan Goleman, alasan yang kerap dimunculkan adalah supaya kami dapat berpikir masak tentang apa yang wajib ditunaikan terhadap suatu hal yang mengganggu kita.

Efeknya, kami cepat mulai bahagia saat ikut nge-share tulisan yang sesuai emosi kita. Kita bangga secara beramai-ramai mempersoalkan perihal yang berlawanan bersama dengan kami yang belum pasti salah, dan seterusnya. Kondisi ini memicu kami gampang kehilangan objektivitas dan akibatnya yang benar-benar gampang dirasakan adalah mudahnya nampak keriuhan dan “berisik” untuk membahas “masalah” ketimbang menganalisisnya bersama dengan logika dan melacak solusi.

Jika perihal ini tetap menerus berlangsung maka bakal membawa kami kepada generasi yang kehilangan “pembacaan mendalam”. Remaja kami akhirnya bakal lebih gampang “nyinyir” terhadap kasus sosial ketimbang membicarakannya untuk dijadikan pelajaran. Di sisi lain, mereka terhitung bakal mengalami kesulitan membaca buku di dalam saat yang panjang, kesulitan paham kasus berasal dari berbagai faktor kehidupan, dan kesulitan menganalisis informasi yang diakui benar tetapi belum dipastikan keakuratannya.

Korban terbesar atas ini semua adalah remaja yang merupakan garda terdepan era depan kita. Jika guru, orangtua, dan semua elemen bangsa tidak segera melakukan perbaikan diri dan keadaan ini, bayangkan sendiri era depan bangsa yang bakal berlangsung bersama dengan generasi layaknya itu.

Alasan ke dua adalah kecepatan.

Obsesi kecepatan membuat perubahan banyak hal. Di dunia bisnis, teknologi, dan lain-lain. Obsesi bakal kecepatan memicu kami berubah menjadi orang yang ingin selamanya lebih cepat tahu. Ya, ingin cepat berbagi dan like atas informasi apa saja di sarana sosial.

Informasi, ucapan orang spesifik (tokoh, pemerintah, pejabat), dan kisah-kisah spesifik selamanya diburu bersama dengan cepat supaya dapat menjadi senjata untuk menyerang pihak yang berlawanan. Rujukan-rujukan selanjutnya seharusnya menjadi serpihan referensi berasal dari info-info lain yang saling terkait.

Celakanya, kadang waktu kecepatan ini dibangun secara massal untuk merubah pikiran orang sebelum informasi yang akurat muncul. Ingat, bukan merubah orangnya yang salah, melainkan orang yang terpengaruhlah yang wajib melakukan perbaikan diri di dalam terima informasi. Apakah kamu tidak benar satunya?

Untuk guru. Ajaklah anak didik kami membahas kasus yang sedang hangat dibicarakan. Ajarkan cara melihat kasus selanjutnya bersama dengan memperbandingkan setidaknya sepuluh informasi yang serupa berasal dari sumber yang berbeda, kemudian bimbinglah mengambil alih asumsi yang objektif, menyeluruh, logis, dan memperhitungkan keadaan sosial dan budaya yang ada.

Obsesi kecepatan gampang sekali menggoyang fokus seseorang. Asal cepat, asal puas, asal senang, dan asal baru, maka fokus di dalam memilih keakuratan dan kebenaran menjadi tersingkirkan. Inilah yang wajib kami perbaiki.

Para guru, ajarkan kecepatan dan kreativitas dikarenakan benar-benar dibutuhkan saat ini. Lengkapi terhitung bersama dengan kebijaksanaan hidup.

Qui-Gon Jinn berbicara di dalam Star Wars, “fokusmu memilih realitasmu”.

Tulisan ini cuma pengantar, silahkan melanjutkan sendiri renungan ini!

Sumber : https://www.lele.co.id/panduan-lengkap-7-cara-menanam-hidroponik-sederhana-di-pekarangan/