keyboard_arrow_right
keyboard_arrow_right
Dampak Buruk Memukul Bokong guna Menghukum Anak
P.Umum

Dampak Buruk Memukul Bokong guna Menghukum Anak

Zaman dahulu, menghukum anak yang tidak patuh dengan kekerasan fisik dirasakan sebagai urusan yang lumrah. Akan tetapi, seiring pertumbuhan zaman, memukul anak atau menghukum dengan kekerasan telah menjadi sebuah hal yang patut dihindari.

Bahkan, Perancis baru-baru ini menerbitkan undang-undang yang tidak mengizinkan orangtua menghukum anaknya dengan kekerasan fisik. Kekerasan jasmani yang dimaksud paling luas cakupannya, mulai dari memukul, menampar, atau memukuli bokong anak.

Kebijakan pemerintah Perancis ini dinilai sebagai suatu peradaban dalam upaya menghentikan kekerasan terhadap anak. Harapannya orangtua bakal mencari teknik lain yang lebih manusiawi dalam mendidik anak-anaknya.

Namun, benarkah hukuman dengan kekerasan benar-benar memberikan akibat buruk bikin anak? Cari tahu jawabannya, yuk.

Anak Tidak Jera

Berdasarkan keterangan dari seorang pakar psikologi, Sandra Graham-Bermann, anak yang dihukum dengan kekerasan tidak bakal merasa jera. Ia memang bakal merasa ketakutan saat dipukuli atau dihukum. Namun, anak tetap tidak dapat memahami kenapa perbuatannya salah. Di masa mendatang pun anak akan mengerjakan kenakalan yang sama.

Masalah Emosional dan Perilaku

Anak yang biasa dihukum dengan kekerasan fisik ingin tumbuh menjadi orang yang kasar dan agresif. Ini sebab anak menyaksikan kekerasan dan hukuman keras ialah satu-satunya teknik untuk meluruskan sebuah masalah atau guna mendapatkan apa yang diinginkannya. Pada tidak sedikit kasus, anak pun menunjukkan perilaku pemberontak.

Trauma Masa Kecil

Jika anak menemukan hukuman yang lumayan parah dari orangtuanya, anak dapat tumbuh dengan trauma masa kecil. Akibatnya, ketika beranjak dewasa anak kendala membangun relasi yang positif dengan orang lain.

Hal ini diakibatkan oleh rasa fobia dan terancam, bahkan ketika bersangkutan dengan orang-orang terdekatnya. Anak tumbuh dengan benak bahwa orangtua yang seharusnya melindunginya dapat menyakitinya, lagipula orang asing.

Moms dapat kok mendidik anak tanpa mesti memakai kekerasan. Ingat, ketegasan tersebut tidak identik dengan hukuman fisik. Jadi, saat anak sudah paling keterlaluan dan Moms telah tidak dapat menahan emosi lagi, ambil jeda dulu.

Suruh anak masuk ke kamarnya dan beranggapan soal perbuatannya, sedangkan Moms dapat melakukan hal beda untuk mendinginkan diri. Tanpa dipukuli atau dihukum, anak akan bersikap lebih tersingkap dan mau memperhatikan omongan Moms.

Daripada memukul bokong anak saat ia melakukan onar, lebih Moms sampaikan apa saja konsekuensi dari tindakannya tersebut. Bantulah anak untuk mengetahui mengapa perbuatannya tidak dapat diterima.

Baca : Penting Diperhatikan, Inilah Berbagai Permasalahan Petani Indonesia