keyboard_arrow_right
Pendidikan
Pendidikan

7 Cara Mendidik Anak Agar Disiplin dan Patuh Sejak Kecil

7 Cara Mendidik Anak Agar Disiplin dan Patuh Sejak Kecil – Mendidik anak semenjak balita ialah tugas orangtua yang sangat sulit. Pasalnya, umur balita adalah masa di mana si kecil masih hendak bebas mengerjakan hal sesukanya. Cara yang ditempuh masing-masing orangtua juga berbeda-beda. Ada yang lebih sabar, namun ada pula yang ingin marah-marah atau bahkan melibatkan kekerasan laksana menjewer, memukul, atau membentak.

Salah-salah pilih teknik mendisiplinkan anak yang keliru malah dapat membuat anak semakin menentang dan kabur dari tanggung jawab. Daripada gunakan kekerasan yang membuang-buang energi, lebih baik pakai teknik yang lebih halus, tapi konsentrasi dan ampuh mendisiplinkan anak. Bagaimana caranya?

Tips mendidik anak balita supaya tumbuh disiplin sampai dewasa

1. Konsisten
Dilansir dari WebMD, Claire Lerner, seorang spesialis pertumbuhan anak, mengaku bahwa semenjak usia 2 hingga 3 tahun anak-anak bekerja keras untuk mengetahui bagaimana perilaku mereka memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Lerner menuliskan bahwa pola asuh yang diterapkan secara teratur dan konsisten dapat menciptakan anak merasa lebih aman dan terlindungi. Anak menjadi tahu apa yang diinginkan oleh orangtuanya sampai-sampai dapat bersikap lebih tenang saat diserahkan perintah.

Ambil contoh, ketika Anda menuliskan “jangan memukul” ketika kesatu kali si kecil memukul rekan sebayanya, barangkali keesokan harinya si kecil dapat tetap memukul. Jika kita kembali menuliskan “jangan memukul” ketika hal ini terulang guna yang kedua, ketiga, atau keempat kalinya, anak bakal lebih mengetahui dan bersikap tenang guna tidak memukul. Akan namun ingat, pakai nada yang lebih tenang supaya anak tidak merasa dalam bahaya dan malah membangkang.

Sementara andai Anda tak konsisten, maka si kecil bakal merasa bingung. Contohnya, saat suatu hari kita tidak membolehkan si kecil bermain bola di dalam lokasi tinggal tapi keesokan harinya Anda malah membiarkannya. Hal ini akan menciptakan sinyal ajakan dan larangan di benak anak bercampur sampai-sampai anak tak tahu mana yang boleh dan tidak boleh. Maka tidak heran bila anak lambat laun menjadi tidak disiplin.

Lakukan berkali-kali, sampai si kecil memahami dengan perintah yang kita berikan. Si kecil bakal menyerap perintah dan belajar mengerjakan hal yang sama sesudah empat atau lima kali kejadian berulang.

2. Kenali pemicu tantrum pada anak
Tantrum ialah kejadian yang lumrah terjadi pada masing-masing anak. Maka itu, masing-masing orangtua mesti tahu betul apa yang menciptakan anaknya tantrum dan rewel. Kebanyakan anak, memang bakal mempunyai emosi yang meledak-ledak ketika merasa lapar atau mengantuk. Nah, baiknya hindari waktu-waktu ini ketika Anda hendak mengajarkan disiplin pada anak.

Misalnya, bila Anda hendak mengajarkan anak guna disiplin masa-masa tidur, pastikan kita dan si kecil berada di lokasi tinggal pada jam-jam istirahat siang dan malam. Jadi, hindari membawanya ke supermarket atau lokasi lainnya ketika si kecil mengantuk atau lapar.

Di sinilah dibutuhkan kerja sama kita dan si kecil supaya proses mendidik anak berlangsung dengan lancar. Kalau anak masih tantrum, berikan mainan kesukaannya terlebih dahulu untuk merangsang suasana hatinya lebih baik. Barulah setelah tersebut Anda dapat kembali mengajaknya bermain seraya belajar bertanggung jawab dengan apa yang si kecil lakukan. Jangan lupa guna berikan pujian pada si kecil ketika dia sukses melakukan pekerjaan positif versi dirinya.

3. Ikuti pola pikir anak
Cara mendidik anak semenjak balita lainnya ialah dengan mengekor pola pikir si kecil. Memang sangat gampang untuk merasa kesal ketika si kecil menciptakan seisi lokasi tinggal berantakan. Hari ini si kecil menggambar semua dinding lokasi tinggal dengan krayon, kemudian keesokannya menyebarkan mainan tanpa membereskannya lagi. Anda pasti pusing dibuatnya.

Namun ingat, pola pikir kita tentu bertolak belakang dengan pola pikir si kecil. Mungkin untuk Anda merapikan mainan ialah hal yang gampang dan bisa cepat diselesaikan, namun belum pasti untuk si kecil.

Jadi, usahakanlah untuk mengekor pola pikir anak. Pada anak seusianya, hal-hal seperti tersebut memang menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Ingat pula bahwa kita pun mengerjakan hal yang sama ketika seusianya. Ini sebab usia balita ialah masa saat si kecil belajar dan mengenal apa yang terdapat di  https://www.bukuinggris.co.id/ sekitarnya.

Jadi, alih-alih kesal sebab si kecil tidak mau diajak untuk merapikan mainnanya. Anda dapat ikut menolong membereskan mainan itu dan memberi misal yang baik padanya. Beri tahu ia andai hal ini urgen untuk dilaksanakan dan ialah tugasnya. Dengan begitu, ia lama-kelamaan bakal terbiasa guna melakukannya. Jangan tak sempat berikan si kecil pujian andai ia sukses membereskan mainannya sendiri.

4. Ciptakan lingkungan yang sesuai
Sekarang Anda telah tahu bahwa si kecil sedang merasakan rasa penasaran yang tak terdapat habisnya dan hendak menjelajahi seluruh hal baru. Nah, untuk memulai mendidik anak, hindari sekian banyak godaan yang bisa membuyarkan fokus anak. Ya, membuat lingkungan yang kondusif dan cocok dengan suasana si kecil ialah cara mendidik anak yang tepat.

Misalnya, hindari akses TV, handphone, tablet, atau perangkat elektronik lainnya yang bisa mengganggu proses pembelajaran anak balita. Proses mendidik anak terkadang terganggu dengan tampilan video yang lebih menarik untuk si kecil daripada mainan di sekitarnya. Membaca kitab atau mainan lainnya, malah lebih dapat merangsang keterampilan motorik dan sesoriknya.

Berdasarkan keterangan dari Rex Forehand, Heinz, dan Rowena Ansbacher, profesor psikologi di University of Vermont, orangtua perlu membuat suasana yang kondusif ketika mendidik anak mereka. Bahkan saat si kecil mulai membangkang, orangtua jangan menghukum anak tetapi malah memindahkan mereka ke kegiatan lain yang dapat memindahkan perhatiannya.

5. tidak boleh ragu guna memberi ‘hukuman’ pada anak
Banyak orangtua yang tak tega andai harus menyerahkan hukuman pada anaknya. Sebenarnya, ini juga dibutuhkan untuk mengindikasikan sikap tegas dalam mendidik anak. Akan namun ingat, Anda pun harus mengukur hukuman yang diserahkan pada si kecil, tidak boleh terlalu memberatkan. Hal ini hanya dilaksanakan untuk menciptakan si kecil belajar disiplin.

Misalnya saja, ketika si kecil memukul, menggigit, atau membuang makanannya, bawa si kecil ke kamarnya atau ke ruangan yang lebih privat. Kemudian, mohon ia guna diam di ruangan itu dan memikirkan apa yang sudah ia kerjakan selama sejumlah saat. Di sini ajaklah anak guna bersikap lebih tenang dan berikan pemahaman bahwa sikap si kecil perlu dibetulkan beserta alasannya. Misalnya saja, “Adik jangan melempar makanan, ya. Nanti lantainya jadi kotor.”

Lakukan teknik ini sekitar satu hingga dua menit, paling tidak hingga Anda selesai menyerahkan pemahaman pada si kecil. Jika telah selesai, berikan tanda pada si kecil bila dia telah boleh pergi dari tempat “hukuman” dan berjanji tidak bakal mengulanginya lagi. Dengan demikian, si kecil bakal belajar bahwa tidak seluruh hal bisa dia kerjakan begitu saja, terlebih bila tersebut merugikan orang lain. Si kecil pasti akan merasa tidak hendak kembali ke sudut ruangan dan menjalani hukuman lagi.

6. Tetap bersikap tenang
Hindari membentak atau memarahi si kecil ketika dia tidak inginkan disiplin. Pasalnya, urusan ini melulu akan menciptakan pesan positif yang kita utarakan hilang begitu saja di pikiran si kecil. Ketika si kecil menciduk aura negatif dari amarah orangtua, dia melulu akan melihat format emosinya dan tidak bakal mendengar apa yang kita katakan.

Usahakan guna tetap bersikap tenang di depan si kecil. Tarik napas dalam-dalam, hitung hingga tiga, dan tatap mata kita dalam-dalam. Menegur dan bersikap tegas bukan berarti mesti disertai dengan emosi, bukan?

7. Berpikir positif
Tenang, tidak terdapat orangtua yang sempurna. Tidak butuh membanding-bandingkan kedisiplinan anak kita dengan anak beda seusianya. Sebab masing-masing anak mempunyai masa pertumbuhan yang berbeda-beda dan tidak dapat disamakan. Lakukan saja hal-hal terbaik yang Anda dapat lakukan.

Tidak peduli seberapa stres Anda berjuang mendidik si kecil supaya disiplin, tetaplah beranggapan positif. Percayalah bahwa Anda dapat mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Mintalah pertolongan pasangan atau dokter anak guna mendapatkan saran terbaik dalam mendisiplinkan anak.

Selama kita konsisten dengan aturan yang kita buat, niscaya si kecil bakal belajar disiplin secara perlahan dengan hasil positif yang bakal mengejutkan Anda.

baca juga: 7 Alasan Memilih Melanjutkan Studi di Belanda

Pendidikan

7 Alasan Memilih Melanjutkan Studi di Belanda

7 Alasan Memilih Melanjutkan Studi di Belanda – Nuffic Neso Indonesia melangsungkan acara “Dutch Placement Day” (DPD), Jumat, 9 November, di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, menggandeng 27 universitas penelitian dan ilmu terapan Belanda.

“DPD menjadi one stop information centre di mana pengunjung bisa berkonsultasi one on one, mengekor presentasi universitas maupun Lembaga pengelola beasiswa, seminar mencatat motivation statement, sampai mengikuti IELTS Try Out,” jelas Koordinator Promosi Pendidikan Nuffic Neso Indonesia, Inty Dienasari.

Lalu, apa yang menciptakan pilihan studi di Belanda menjadi paling menarik? Sofia Yang, Humas Nuffic Nesso Indonesia dalam sesi seminar “Study in Holland” menjelaskan untuk peserta DPD 2018, 7 dalil Belanda unik dilirik menjadi opsi studi.

1. Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar

Saat ini, telah paling tidak terdapat lebih dari 2.100 opsi program studi di universitas Belanda telah memakai bahasa Inggris. Siswa tidak butuh khusus belajar Belanda, karena tidak sedikit bahasa pendahuluan yang digunakan ialah bahasa Inggris.

2. Destinasi studi murid internasional

Saat ini ada 112 ribu mahasiswa internasional belajar di Belanda. Ini berarti, 1 dari 10 mahasiswa yang kuliah di Belanda adalah mahasiswa internasional. Tahun ini saja minimal ada lebih dari 2.500 pelajar Indonesia menempuh studi di Belanda.

3. Universitas ruang belajar dunia

Belanda mempunyai sekitar 200 universitas yang masuk dalam pemeringkatan universitas ruang belajar dunia menurut keterangan dari QS University World Rankings. Bahkan 13 di antaranya masuk dalam https://www.sekolahan.co.id/ 50 terbaik dunia.

4. Kualitas edukasi tinggi terjamin

Berbeda dengan Indonesia, Belanda melulu menerapkan 1 sistem akreditasi tanpa pemeringkatan. Hal ini memastikan bahwa kualitas edukasi tinggi di Belanda mempunyai standar tinggi yang sama. Sebaliknya, edukasi tinggi yang tidak lulus akreditasi tidak diizinkan menerima mahasiswa untuk memastikan kualitas edukasi di sana.

5. Biaya edukasi ‘reasonable’

Biaya edukasi di Belanda dirasakan ‘paling reasonable’ bila dikomparasikan universitas beda di Eropa yang memakai bahasa Inggris sebagai pengantar. Biaya edukasi S1 rata-rata menguras 6 ribu hingga 15 ribu pounsterling dan S2 berkisar 8 ribu hingga 20 ribu pounsterling.

6. Kota terbaik guna generasi milenial

Amsterdam, Belanda terpilih menjadi di antara “Best Cities fo Millenials” menurut keterangan dari Nestpick tahun 2017. Tidak melulu menjadi kota kelahiran start up besar “Uber”, kota ini juga dirasakan mempunyai ekossistem bisnis yang baik dan menyerahkan ruang untuk generasi milenial mengembangkan kreatifitas, hakikat dan kualitas hidup.

7. “Home Away from Home”

Ikatan historis Indonesia dan Belanda membuat tidak sedikit orang Indonesia di sana, baik menetap maupun memilih studi di sana. Hal ini menciptakan Belanda menjadi terasa “jauh tetapi seperti di rumah” untuk pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi di Belanda.

baca juga:  4 Cara Menjaga Kesehatan Lidah Yang Baik dan Benar

Pendidikan

Siapakah Guru Pendidikan Karakter ?

Siapakah Guru Pendidikan Karakter ?

Siapakah Guru Pendidikan Karakter ?

 

Siapakah Guru Pendidikan Karakter
Siapakah Guru Pendidikan Karakter
Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda mau, Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda tahu. Anda hanya bisa mengajarkan siapa Anda” – Soekarno
Sebelum saya lebih jauh mengkaji tentang topic yang akan dibahas kali ini, maka saya akan berbagi tentang belajar. Ya, proses belajar bagaimana otak menyerap informasi. Inilah yang seringkali diabaikan, kita sebagai orangtua atau guru maunya seringkali “memaksa” anak mengerti tentang sesuatu hal dan “jalankan” seperti computer, kasi perintah dan tekan “ENTER”. Nah, kalo di manusia bukan ENTER tapi “ENTAR” upsss…
Dari penelitian diberbagai belahan dunia yang terus berkembang, hasil riset tentang tehnik penyerapan informasi ke otak dibagi menjadi 5 tahap :
  • Membaca dengan prosentase penyerapan informasi 10%
  • Mendengar dengan prosentase penyerapan informasi 20%
  • Mendengar dan Melihat dengan prosentase penyerapan informasi 50%
  • Mengatakan dengan prosentase penyerapan informasi 70%
  • Mengatakan dan melakukan dengan prosentase penyerapan informasi 90%
Dari informasi diatas mudah bagi kita untuk mengetahui cara yang paling efektif untuk mendidik karakter anak bukan? Kalo mau hasil maksimal, dengan penyerapan diatas 50 % maka metode mendidiknya harus disesuaikan dengan cara otak menyerap informasi.
Tentunya cara itu adalah kombinasi antara Melihat, Mendengar, Mengatakan dan Melakukan. Saya akan membagi 2 tahap penjelasan, yaitu:

1. Melihat dan Mendengar

Adalah proses belajar yang ada contoh dan ada pengajarnya. Jika disekolah tentunya guru yang akan bersuara, jika dirumah maka orangtua. Sebagai guru tentunya harus memberikan contoh dan model karakter yang dikehendaki anak didiknya bagaimana serta mengajarkan “how to achieve”. Jadi pada dasarnya semua guru disekolah bisa menjadi guru pendidikan karakter, jika berkomitmen untuk menjadi contoh dan mau menjelaskan bagaimana agar siswa dapat memiliki karakter seperti gurunya. Sama halnya orangtua yang ada dirumah, siswa hanya 30% berada disekolah, 10-15 % lingkungan sosialnya dan  sisanya dirumah. Maka porsi terbesar adalah orangtua yang menjadi guru pendidikan karakter bagi anaknya.
Seorang anak dari bayi, dia tidak mengenal bahasa. Saat dia kecil dia belajar dengan melihat contoh, dia belajar jalan, membuka pintu, menyalakan tv, semuanya melihat. Dan proses belajar seperti ini masih berlanjut pada kehidupan kita orang dewasa. Jadi jangan anggap sepele dalam sikap dan perilaku kita untuk memberikan contoh yang baik untum pendidikan karakter anak.

2. Mengatakan dan Melakukan

Ini terkait dengan peraturan dan system yang berlaku lingkungan belajar pendidikan karakter (sekolah dan rumah). Bagaimana peraturan disekolah dan dirumah selaras dengan tujuan pendidikan karakter. Baiklah saya akan memberi contoh, di Indonesia, di Surabaya khususnya saya masih bisa memberhentikan angkutan umum (metromini) sembarangan. Dimana saya ada di jalan raya, saya lihat ada angkutan umum saya tinggal angkat tangan saja maka amgkutan umum itu akan berhenti. Hal ini bisa berlaku di Surabaya, tapi tidak di Singapura. Jika saya pindah ke Singapura maka saya tidak bisa seenaknya saja memberhentikan angkutan umum, ada tempat khusus dimana angkutan umum tersebut mau berhenti. Maka perilaku saya akan berubah mengikuti aturan yang berlaku, saya akan ke halte jika mau naik kendaraan umum.
Jadi dalam pendidikan karakter juga diperlukan seting macam ini juga, seting lingkungan untuk mendukung perilaku Melakukan yang akhirnya akan terbiasa. Seperti ada pepatah bisa karena biasa, sama seperti halnya aturan baru dalam berlalu lintas. Belakangan ini banyak aturan baru sehingga jalan yang biasanya bisa 2 arah hanya satu arah untuk keefektifan pengguna jalan dan menghindari kemacetan, jika kita langgar maka tilang. Pertama terasa berat, setelah 1 bulan sudah biasa, tidak ada beban lagi. Manusia adalah mahluk yang mudah beradaptasi, terasa berat jika itu dijalankan terus menerus, maka lama-lama terbiasa. Dalam melakukan pola ini jangan lupa memberikan konsekuensi jika melanggar, tentunya konsekuensi yang mendidik dan tidak merusak harga diri anak. Contoh: jika melanggar maka mainan kesukaan anak akan disita 2 hari.
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Pendidikan

Urgensi Pendidikan Karakter

Urgensi Pendidikan Karakter

Urgensi Pendidikan Karakter

Urgensi Pendidikan Karakter
Urgensi Pendidikan Karakter
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Memahami Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.
Dampak Pendidikan Karakter
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.
Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.
Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.
Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.
Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.
sumber : Ditjen Mandikdasmen – Kementerian Pendidikan Nasional
Baca Juga :
Pendidikan

Menguji Validitas Instrumen Survei

Menguji Validitas Instrumen Survei

Menguji Validitas Instrumen Survei

Validitas Instrumen Survei
Validitas Instrumen Survei
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 1993). Instrumen survei yang baik memiliki tingkat kevalidan tinggi sebaliknya instrumen survei yang buruk memiliki tingkat kevalidan rendah. Instrumen survei yang baik akan menghasilkan data yang benar yang akan mengantarkan peneliti pada suatu kesimpulan penelitian yang sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya, instrumen survei yang buruk akan menghasilkan data yang tidak benar sehingga menghasilkan kesimpulan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Bermula dari instrumen yang buruklah ketetapan “garbage in garbage out” berlaku.
Untuk menghasilkan instrumen survei yang baik, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, instrumen survei sebaiknya disusun berdasarkan landasan teori yang tepat. Langkah ini bisa dimulai dengan melakukan studi pustaka untuk menentukan sejumlah variabel penelitian yang akan dikaji. Perlu diingat bahwa variabel ada yang terukur dan ada variabel yang tidak terukur. Kita dapat dengan mudah menilai suatu variabel jika variabelnya terukur.

Sebagai contoh, variabel berat badan balita, kita dapat mengukurnya dengan mudah dengan cara menimbangnya. Tetapi, untuk variabel yang tidak terukur, kita masih membutuhkan sejumlah indikator untuk mengukurnya. Sebagai contoh, untuk mengukur variabel derajat rumah sehat berpendapat, kita membutuhkan sejumlah indikator yang dapat menggambarkan derajat rumah sehat itu sendiri. Misalnya, jenis dinding, luas lantai dan jenis atap. Instrumen survei yang disusun berdasarkan kerangka acuan yang jelas atau landasan teori yang tepat akan menghasilkan instrumen survei yang memenuhi kriteria validitas logis.

Selanjutnya, instrumen survei tidak cukup hanya memenuhi kriteria validitas logis. Instrumen survei juga harus valid secara empiris (validitas empiris). Pada tahap inilah perlunya instrumen survei diujicobakan sebelum digunakan untuk penelitian sesungguhnya. Berdasarkan uji coba instrumen ini, validitas empiris akan tinggi jika:
a. Sasaran survei yang diteliti sudah sesuai dengan tujuan penelitian.
b. Pertanyaan yang disusun dalam instrumen survei mempunyai alur yang baik.
Instrumen dengan validitas empiris yang baik dapat mengidentifikasi variasi jawaban responden disebabkan oleh struktur pertanyaan yang difahami oleh responden. Hal ini bisa diketahui dari keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lain atau antara indikator yang satu dengan indikator yang lain yang disusun dalam instrumen survei. Sebaliknya, jika instrumen survei tidak difahami oleh responden akan menghasilkan variasi jawaban responden yang tidak menunjukkan keterkaitan antar variabel atau indikator yang diteliti. Dalam hal ini, variasi data dihasilkan dari ketidakmengertian responden terhadap maksud pertanyaan yang dinyatakan dalam instrumen survei.

Mengukur Validitas Empiris
Untuk mengetahui tingkat validitas empiris instrumen survei, ada dua cara yang dapat digubakan. Pertama, mengukur keterkaitan variabel penelitian dengan variabel lain yang dijadikan sebagai validator. Misalnya, untuk mengukur prestasi belajar pada mata pelajaran IPA seorang guru bisa mengukur keterkaitan nilai ulangan IPA dengan rata-rata nilai raportnya. Dalam hal ini, rata-rata nilai raport dijadikan sebagai validator. Dengan cara seperti ini, peneliti mengukur validitas eksternal dari instrumen survei.
Cara yang kedua adalah dengan mengkaji jawaban setiap item pertanyaan yang diajukan dalam instrumen survei. Validitas yang dihasilkan dengan cara ini dinamakan validitas internal. Perlu diketahui bahwa instrumen survei mungkin saja disusun berdasarkan beberapa faktor (variabel) yang masing-masing faktor (variabel) itu diukur lebih lanjut oleh beberapa indikator. Karena itu, validitas internal bisa diketahui dengan cara:
a. Mengukur keterkaitan antar faktor atau variabel.
b. Mengukur keterkaitan antar indikator.

Validitas internal akan diperoleh apabila peneliti menemukan keterkaitan baik antar faktor dengan faktor, indikator dengan indikator maupun indikator dengan faktor.
Karena validitas hanya diukur dari keterkaitan antar faktor atau antar indikator maka metode statistik yang digunakan cukup analisis korelasi. Pembaca tinggal mengkorelasikan setiap butir pertanyaan dalam survei atau mengkorelasikan jumlahan beberapa butir pertanyaan dalam instrumen survei sebagai gambaran faktor atau indikator yang diukur. Silahkan gunakan korelasi Pearson apabila variabel yang diukur dengan skala kontinyu dan gunakan korelasi Spearman apabila variabel diukur dengan skala ordinal. Jadi, mengukur validitas instrumen survei sesungguhnya mudah bukan?
Sumber Pustaka
Arikunto Suharsimi. (1993). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sumber : Ngelag.Com
Pendidikan

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN
ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

Pendahuluan

Dalam abad ke 20 ini, di satu pihak orang mengamati kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dan mendalam, namun bersamaan dengan itu dipihak lain orang mengamati dekadensi kehidupan beragama dikalangan umat manusia. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tampak jelas memberikan buah yang sangat menyenangkan bagi kehidupan lahiriyah umat manusia secara luas. Dan manusia merasa telah mampu mengeksploitasi kekayaan-kekayaan dunia secara besar-besaran.[1]

Kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi kurun ini, secara bertahap tapi pasti membuktikan bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu benar dan mengagumkan. Sejak bentuk tulisan yang paling primitif dengan bahan kertas yang amat sederhana manusia memulai abad-abad yang gemerlapan oleh sinar ilmu pengetahuan itu, manusia telah menulis berjuta-juta buku, dan dapat menyelesaikan penulisan beribu-ribu kata dalam waktu yang amat singkat. Dna yang paling aktual serta masih mengagumkan di kalangan manusia adalah penemuan alat “komputer” yang begitu besar manfaatnya.[2]

  • Pembahasan

  • Pandangan Islam terhadap Ilmu

Sepanjang yang kita ketahui, rasanya belum ada sesuatu agamapun yang melampaui dalamnya pandangan terhadap ilmu pengetahuan sebagaimana pandangan yang diberikan Islam. Islam sangat gigih dalam mendorong umat manusia untuk mencari ilmu dan mendudukkannya, sebagai sesuatu yang utama dan mulia.

 

Sejak awal turunnya wahyu kepada Muhammad Saw (al-Qur’an), masalah ilmu pengetahuan merupakan pangkal perintah Allah kepada manusia. Perintah membaca merupakan kunci mencari dan mengulas ilmu pengetahuan itu, “membaca” apakah yang hendak dibaca tanpa ada sesuatu yang tersurat? Dan ini merangsang manusia untuk giat menulis, meneliti, mengobservasi, menganalisis, dan kemudian merumuskannya sebagai teori ilmu, membacapun tak dapat jalan tanpa memiliki pengetahuan membaca dan ketrampilan bahasa dan pandai menulis adalah rangkaian dari sarana dalam rangka menimba ilmu pengetahuan itu.

Dari sini kita dapat mengambil pengertian bahwa Allah benar-benar menyatakan betapa tingginya nilai ilmu itu. Karena itu Allah meninggikan kedudukan orang-orang yang berilmu, baik disisi Allah maupun disisi manusia.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan”. (QS. 58 : 11).[3]


  1. Ilmu Pengetahuan di Tengah Umat Islam

 

Banyak sekali ilmuwan Islam dengan karya-karya mereka dengan besar, yang pengaruh hasil karya ilmiahnya masih dirasakan hingga berabad-abad kemudian di dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa. Para cendekiawan barat mengakui bahwa Jabir ibn Hayyam (721-815) adalah orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya dalam alkemi yang kemudian oleh ilmuwan barat diambil alih serta dikembangkan menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai ilmu kimia.

Di dalam sejarah ilmu pengetahuan yang ditulis oleh sarjana Eropa disebutkan bahwa Muhammad ibn Zakaria ar-Rozi (865-925) telah menggunakan alat-alat khusus untuk melakukan proses-proses yang lazim dilakukan ahli kimia seperti distalasi, kristalisasi, kalsinasi dan sebagainya.

Sekitar tahun 1231 ketika Henrick Harpestraeng, orang yang kemudian menjadi dokter istana raja Eric II Walder Marsson, berusaha menulis risalah kedokteran dalam ilmu bedah di Salerno ia meminta bantuan Michael the Schott bekas mahasiswa dari Universitas Islam di Toledo, untuk dapat menggunakan buku-buku standar ar-Rozi dan Ibn Sina yang berbahasa Arab tersebut sebagai sumber.

Profesor Fuad Sezgin guru besar sejarah Universitas Frankfurt, telah menulis dua puluh jilid buku tentang karya-karya Ilmuwan muslim zaman lalu yang diberi judul “Geschichte des Arabis Chen Schriftums”, dan memberikan komentar tentang pengaruhnya pada ilmuwan Eropa kemudian, serta pembajakan-pembajakan naskah yang disalin dari bahasa arab kemudian diakui sebagai karya ilmiah penyalin.[4]


  1. Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

 

Sebagai makhluk yang diberi kelebihan-kelebihan, manusia dijadikan penguasa di bumi dengan tugas, kewajiban serta tanggung jawabnya, dia harus melalukan pengelolaan yang baik untuk itu ia harus mengetahui dan memahami benar-benar sifat dan kelakuan alam sekitarnya yang harus dikelolanya itu, baik yang tak bernyawa maupun yang hidup beserta masyarakatnya, pengetahuan dan pemahaman ini dapat diperolehnya karena manusia hidup di dalam, dan dapat menginderakan alam fisis di sekelilingnya. Dan diharapkan orang dapat memperoleh pengetahuan yang berguna baginya dalam menjalankan peranannya sebagai khalifah di bumi.

Pemeriksaan dengan perhatian yang besar untuk mengetahui sesuatu memerlukan observasi yang berulang-ulang secara teliti serta pengumpulan data secara sistematis yang kemudian dianalisis untuk memperoleh suatu kesimpulan tentang apa yang diperiksa itu untuk dihimpun sebagai pengetahuan, tetapi analisis terhadap suatu himpunan data untuk mencapai kesimpulan itu memerlukan kemampuan berfikir secara kritis. Namun untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang dapat dihimpun menjadi suatu sistem yang logis atau kesatuan yang rasional yang kita sebut ilmu pengetahuan perlu digunakan pertimbangan yang melibatkan akal. Dan hal inipun diungkapkan dalam ayat lanjutannya yaitu ayat 12 surat an-Nahl yang artinya:

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)

Dalam abad-abad yang lalu umat Islam hanya dapat meraba serta menerka saja jawabannya, maka kita yang hidup dalam abad ke-20 ini telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana teknologi propulsi roket dan pengendalian elektronik yang canggih telah berhasil melontarkan manusia sampai ke permukaan bulan dan mengembalikannya ke bumi serta mengirimkan pesawat antariksa yang masing-masing mempunyai misi tertentu ke planet dalam tata surya kita.[5]  Referensi : gurupendidikan.co.id

Pendidikan

TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA DAN PENGHUNINYA PERSPEKTIF BARAT

TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA DAN PENGHUNINYA PERSPEKTIF BARAT

TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA DAN PENGHUNINYA PERSPEKTIF BARAT

TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA DAN PENGHUNINYA PERSPEKTIF BARAT
TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA DAN PENGHUNINYA PERSPEKTIF BARAT
A. Latar Belakang
Pernahkah kamu bayangkan betapa luas alam semesta tempat kita tinggal? Mungkin kamu memang belum banyak tahu tentang hal itu. Kalaupun pernah, kamu tentu masih sangat sulit membayangkan betapa besar ukuran alam semesta ini. Akan kami terangkan seberapa besar alam semesta ini dengan menggunakan suatu contoh. Seberapa jauhkah jarak yang dapat kamu bayangkan? Jarak antara batas kota tempat kamu tinggal mungkin tampak begitu besar bagimu. Anggap saja kamu sedang melintasi seluruh jalan-jalan di kotamu, dari timur ke barat, dan kamu akan terkagum-kagum oleh keluasannya.
Mungkin diantara kalian ada yang pernah bepergian ke kota lain yang jauh jaraknya. Tapi, camkan satu hal! Meskipun kamu pergi mengelilingi dunia, tetap saja masih sulit untuk membantumu membayangkan betapa luas alam semesta ini. Karena ukuran bumi hanyalah sebesar debu jika dibandingkan dengan ukuran alam semesta yang teramat sangat luas ini.

A. TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA

1. Teori Ledakan Besar (Big-Bang Theory)
Teori Big Bang yaitu teori yang bisa diterima secara ilmiah sekarang untuk menjelaskan asal mula terbentuknya alam semesta (universe).Teori ini berbunyi:
“ Alam semesta diciptakan kira-kira 15.000.000.000 (lima belas trilyun) tahun yang lalu,kejadiannya berawal dari meledaknya atom prima atau atom awal (Primeval Atom). Ledakan itu sangat besar dan dasyat yang menyebabkan berhamburannya seluruh isi (Materi dan energi)atom prima itu ke segala arah.”
Dengan dasar teori Big Bang itu, para ahli sekarang berhasil mereka ulang pembentukan alam semesta dari waktu ke waktu, dimulai dari pristiwa Big Bang bahkan saat ini mereka dapat memperkirakan bagaimana bentuk alam semesta ini beberapa abad nanti, contohnya jika Galaksi Bimasakti (Milkyway) tempat kita berpijak dan galaksi tetangga yang paling dekat yaitu Galaksi Andromeda akan saling bergerak mendekat dan suatu saat mereka akan bertabrakan.
2. Proses Terbentuknya Alam Semesta
Setelah terjadinya ledakan (big Bang), terjadilah semacam bencana alam semesta (cosmic cataclysm). Alam semesta dipenuhi oleh bola-bola api yang sangat panas dan padat. Dari bola-bola api inilah kemudian terbentuk partikel-partikel dasar dan muatan-muatan energi, dari muatan-muatan energi ini kemudian terbentuk daya-daya kekuatan di alam semesta. Daya kekuatan alam yang diperkirakan pertama kali terbentuk adalah daya gravitasi, kemudian daya nuklir serta daya electromagnetis.
Partikel-partikel dasar yaitu elektron, photon, neutron dan lain-lain saling bertubrukan untuk kemudian membentuk proton dan neutron. Selama masa ini sebagian besar energi masih berbentuk radiasi (percikan-percikan cahaya dari bola-bola api).
Alam semesta terus mengembang dan perlahan-lahan mulai mendingin. Pada tahap ini, inti atom hidrogen, helium dan litium mulai membentuk. Tahap selanjutnya alam semesta mulai memasuki tahap suhu yang cukup dingin sehingga partikel-partikel elektron yang bermuatan negatif dapat berkait dan menyatu dengan inti-inti atom hidrogen dan helium yang bermuatan positif untuk kemudian membentuk atom-atom yang netral.
Karena alam semesta terus membesar, kepadatannya otomatis semakin berkurang dan suhunya juga semakin mendingin.
Proses pengembangan alam semesta terus berlanjut dengan tingkat kecepatan yang tinggi. Daya gravitasi mulai mempengaruhi tingkat kepadatan gas-gas yang terbentuk akibat Big Bang, sehingga menciptakan gumpalan-gumpalan awan gas. Saat gumpalan-gumpalan ini semakin memadat, inti gumpalan gas tersebut juga bertambah padat berlipat-lipat dengan suhu yang juga terus meningkat panas sampai akhirnya menyala sebagai bentuk awal sebuah bintang. Saat semua kantong-kantong gas mengalami proses serupa maka kelompok bintang-bintang muda ini membentuk menjadi sebuah gugusan bintang (galaksi). Seluruh proses di atas, dari Big Bang hingga terbentuknya planet, bintang serta galaksi berlangsung dalam kurun waktu milyaran tahun.Seperti halnya proses pembentukan bintang-bintang yang lain, bintang kita, yang kita kenal dengan nama Matahati (sun) juga terbentuk dari gumpalan atau kantong awan gas. Gumpalan awan gas yang berbentuk piringan yang sangat luas ini beterbangan berputar-putar. Bagian tengahnya mulai padat dan memanas untuk kemudian menyala menjadi bintang sementara materi sisa disekelilingnya saling bertumbukan, menyatu dan menggumpal membentuk planet-planet, bulan-bulan dan asteroid. Bumi yang merupakan bagian kecil dari material yang menggumpal ini menjadi planet ke tiga. Dengan suhunya yang relatif lebih dingin, memungkinkan terbentuknya atmosfer pendukung kehidupan.
3. Pendukung Teori Big Bang
Teori Big Bang ini diajukan oleh Georges Lemaitre pada tahun 1927, dia adalah seorang pendeta sekaligus ahli matematika dari Belgia.
Bertahun-tahun kemudian, Edwin Hubble menetapkan teori bahwa : Galaksi-galaksi di alam semesta ini semuanya bergerak menjauhi pusat alam semesta dengan kecepatan yang sangat tinggi atau dapat dikatakan bahwa alam semesta ini mengembang kesegala arah. Apa yang dikemukakan Hubble ini menguatkan teori Big Bang-nya Lemaitre.
Teori Big Bang juga memprediksikan bahwa ledakan Big Bang telah meninggalkan seberkas cahaya radiasi (“background” radiation) dan pada tahun 1964, Arno Penzias dan Robert Wilson berhasil menemukan radiasi pertama ini, persis seperti yang diprediksikan dalam teori Big Bang.
4. Terbentuknya Materi Padat
Setelah big bang sampai 300.000 tahun kemudian, bentuk materi masih berupa gas. Dari gumpalan-gumpalan gas ini selanjutnya bintang-bintang berukuran sangat besar mulai terbentuk tetapi hanya berusia pendek karena kemudian meledak (supernova). Setelah meledak gas-gasnya menggumpal lagi, menjadi padat, kemudian menyala dan terbentuk bintang-bintang lagi yang berukuran lebih kecil,
meledak kembali, demikian terus menerus untuk beberapa kali sampai akhirnya terbentuk materi-materi berat di inti bintang-bintang yang meledak. Materi-materi padat inilah yang kemudian membentuk benda-benda di alam semesta seperti yang sekarang ini seperti planet-planet dll bahkan unsur-unsur pembentuk tubuh kita sebagian besar dari materi-materi berat ini.
Jadi, materi-materi padat dibentuk di dalam inti bintang melalui proses fusi nuklir (peleburan / penyatuan materi nuklir) dan dimulai dari materi-materi ringan seperti hidrogen dan helium. Sementara materi-materi yang lebih berat seperti karbon, oksigen, nitrogen hingga besi dibentuk di dalam inti bintang karena memang suhu dan tekanannya lebih memungkinkan. Materi-materi ini terlempar ke luar angkasa saat bintang-bintang tersebut meledak.

B. HIPOTESIS “KEADAAN-STABIL”

Teori Dentuman Besar dengan cepat diterima luas oleh dunia ilmiah karena bukti-bukti yang jelas. Namun, para ahli astronomi yang memihak materialisme dan setia pada gagasan alam semesta tanpa batas yang dituntut paham ini menentang Dentuman Besar dalam usaha mereka mempertahankan doktrin fundamental ideologi mereka. Alasan mereka dijelaskan oleh ahli astronomi Inggris, Arthur Eddington, yang berkata, “Secara filosofis, pendapat tentang permulaan yang tiba-tiba dari keter-aturan alam sekarang ini bertentangan denganku.
Ahli astronomi lain yang menentang teori Dentuman Besar adalah Fred Hoyle. Sekitar pertengahan abad ke-20 dia mengemukakan sebuah model baru yang disebutnya “keadaan-stabil”, yang tak lebih suatu per-panjangan gagasan abad ke-19 tentang alam semesta tanpa batas. Dengan menerima bukti-bukti yang tidak bisa disangkal bahwa jagat raya mengembang, dia berpendapat bahwa alam semesta tak terbatas, baik dalam dimensi maupun waktu. Menurut model ini, ketika jagat raya mengembang, materi baru terus-menerus muncul dengan sendirinya dalam jumlah yang tepat sehingga alam semesta tetap berada dalam “keadaan-stabil”. Dengan satu tujuan jelas mendukung dogma “materi sudah ada sejak waktu tak terbatas”, yang merupakan basis filsafat mate-rialis, teori ini mutlak bertentangan dengan “teori Dentuman Besar”, yang menyatakan bahwa alam semesta mempunyai permulaan. Pendukung teori keadaan-stabil Hoyle tetap berkeras menentang Dentuman Besar selama bertahun-tahun. Namun, sains menyangkal mereka.

C. EVOLUSI ALAM SEMESTA

Naluri manusia selalu ingin mengetahui asal usul sesuatu, termasuk asal-usul alam semesta. Berbagai hasil pengamatan dianalisis dengan dukungan teori-teori fisika untuk mengungkapkan asal-usul alam semesta. Teori yang kini diyakini bukti-buktinya menyatakan bahwa alam semesta ini bermula dari ledakan besar (Big Bang) sekitar 13,7 milyar tahun yang lalu. Semua materi dan energi yang kini ada di alam terkumpul dalam satu titik tak berdimensi yang berkerapatan tak berhingga. Tetapi ini jangan dibayangkan seolah olah titik itu berada di suatu tempat di alam yang kita kenal sekarang ini. Yang benar, baik materi, energi, maupun ruang yang ditempatinya seluruhnya bervolume amat kecil, hanya satu titik tak berdimensi.
Tidak ada suatu titik pun di alam semesta yang dapat dianggap sebagai pusat ledakan. Dengan kata lain ledakan besar alam semesta tidak seperti ledakan bom yang meledak dari satu titik ke segenap penjuru. Hal ini karena pada hakekatnya seluruh alam turut serta dalam ledakan itu. Lebih tepatnya, seluruh alam semesta mengembang tiba tiba secara serentak. Ketika itulah mulainya terbentuk materi, ruang, dan waktu.
Materi alam semesta yang pertama terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang dan galaksi generasi pertama. Dari reaksi fusi nuklir di dalam bintang terbentuklah unsur-unsur berat seperti karbon, oksigen, nitrogen, dan besi. Kandungan unsur-unsur berat dalam komposisi materi bintang merupakan salah satu “akte” lahir bintang. Bintang-bintang yang mengandung banyak unsur berat berarti bintang itu “generasi muda” yang memanfaatkan materi-materi sisa ledakan bintang-bintang tua. Materi pembentuk bumi pun diyakini berasal dari debu dan gas antar bintang yang berasal dari ledakan bintang di masa lalu. Jadi, seisi alam ini memang berasal dari satu kesatuan.
Bukti-bukti pengamatan menunjukkan bahwa alam semesta mengembang. Spektrum galaksi galaksi yang jauh sebagian besar menunjukkan bergeser ke arah merah yang dikenal sebagai red shift (panjang gelombangnya bertambah karena alam mengembang). Ini merupakan petunjuk bahwa galaksi galaksi itu saling menjauh. Sebenarnya yang terjadi adalah pengembangan ruang. Galaksi galaksi itu (dalam ukuran alam semesta hanya dianggap seperti partikel partikel) dapat dikatakan menempati kedudukan yang tetap dalam ruang, dan ruang itu sendiri yang sedang berekspansi. Kita tidak mengenal adanya ruang di luar alam ini. Oleh karenanya kita tidak bisa menanyakan ada apa di luar semesta ini.
Secara sederhana, keadaan awal alam semesta dan pengembangannya itu dapat diilustrasikan dengan pembuatan roti. Materi pembentuk roti itu semula terkumpul dalam gumpalan kecil. Kemudian mulai mengembang. Dengan kata lain “ruang” roti sedang mengembang. Butir butir partikel di dalam roti itu (analog dengan galaksi di alam semesta) saling menjauh sejalan dengan pengembangan roti itu (analog dengan alam).
Dalam ilustrasi tersebut, kita berada di salah satu partikel di dalam roti itu. Di luar roti, kita tidak mengenal adanya ruang lain, karena pengetahuan kita, yang berada di dalam roti itu, terbatas hanya pada ruang roti itu sendiri. Demikian pulalah, kita tidak mengenal alam fisik lain di luar dimensi “ruang waktu” yang kita kenal.
Bukti lain adanya pengembangan alam semesta di peroleh dari pengamatan radio astronomi. Radiasi yang terpancar pada saat awal pembentukan itu masih berupa cahaya. Namun karena alam semesta terus mengembang, panjang gelombang radiasi itu pun makin panjang, menjadi gelombang radio. Kini radiasi awal itu dikenal sebagai radiasi latar belakang kosmik (cosmic background radiation) yang dapat dideteksi dengan teleskop radio.
Artikel Lainnya :
Pendidikan

Pengertian Biaya Pendidikan

Pengertian Biaya Pendidikan

Pengertian Biaya Pendidikan

 

Di dalam terminologi administrasi keuangan, khususnya adminsitrasi keuangan bidang pendidikan, dibedakan antara biaya (cost) dan pembelanjaan (expenditure). Biaya (cost) adalah nilai besar dana yang diprakirakan perlu disediakan untuk membiayai kegiatan tertentu, misalnya kegiatan akademik, kegiatan kesiswaan, dan sebagainya. Sedangkan pembelanjaan (expenditure) adalah besar dana riil yang dikeluarkan untuk membiayai unit kegiatan tertentu, misalnya kegiatan praktikum siswa. Oleh karena itu, seringkali muncul adanya perbedaan antara biaya yang dianggarkan dengan pembelanjaan riil.
Pengertian Biaya Pendidikan
Pengertian Biaya Pendidikan

Secara bahasa biaya (cost) dapat diartikan pengeluaran, dalam istilah ekonomi, biaya/pengeluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya. Dan biaya pendidikan. Biaya pendidikan merupakan hal yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Dapat dikatakan bahwa proses pendidikan tidak dapat berjalan tanpa dukungan biaya. Biaya pendidikan merupakan salah satu komponen masukan instrumental (instrumental input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan (di sekolah).

Dalam setiap upaya pencapaian tujuan pendidikan, baik tujuan-tujuan yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif biaya pendidikan memiliki peranan yang sangat menentukan. Hampir tidak ada upaya pendidikan yang dapat mengabaikan peranan biaya, sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa biaya, proses pendidikan (di sekolah) tidak akan berjalan. Biaya dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas, yakni semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga (yang dapat dihargakan uang).

Mengukur Biaya Pendidikan

Dalam konsep dasar pembiayaan pendidikan ada dua hal penting yang perlu dikaji atau dianalisis, yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan (total cost) dan biaya satuan per siswa (unit cost). Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan aggregate biaya pendidikan tingkat sekolah baik yang bersumber dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat yang dikerluarkan untuk menyelenggarakan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Biaya satuan per murid merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh pendidikan. Oleh karena biaya satuan ini diperoleh dengan memperhitungkan jumlah murid pada masing-masing sekolah, maka ukuran biaya satuan dianggap standard an dapat dibandingkan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya.

Analisis mengenai biaya satuan dalam kaitannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya dapat dilakukan dengan menggunakan sekolah sebagai unit analisis. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan kita untuk mengetahui efisiensi dalam penggunaan sumber-sumber di sekolah, keuntungan dari investasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat, pemerintah untuk pendidikan. Disamping itu, juga dapat menjadi penilaian bagaimana alternatif kebijakan dalam upaya perbaikan atau peningkatan sistem pendidikan.

Dalam menentukan biaya satuan terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan makro dan mikro. Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana kemudia dibagi jumlah murid. Pendekatan mikro perhitungan biayanya didasarkan alokasi pengeluaran perkomponen pendidikan yang digunakan oleh murid.

Pendekatan Makro
Faktor utama yang menentukan perhitungan biaya satuan dalam sistem pendidikan adalah kebijakan dalam pengalokasian anggaran pendidikan disetiap negara. Satuan biaya pendidikan disetiap negara sangat bervariasi, yang disebabkan oleh perbedaan cara penyelenggaraan pendidikan. Untuk membandingkan biaya pendidikan pada tiap jenjang ditiap negara, teknik yang dilakukan adalah dengan membandingkan biaya operasional pendidikan dan sumber keuangannya, yang bisa dilihat dari persentase GNP dari tiap negara.

Pendekatan Mikro
Pendekatan ini menganalisis biaya pendidikan berdasarkan pengeluaran total (total cost) dan jumlah biaya satuan (unit cost) menurut jenis dan tingkat pendidikan. Biaya total merupakan gabungan-gabungan biaya per komponen input pendidikan di tiap sekolah. Satuan biaya pendidikan merupakan biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk melaksanakan pendidikan di sekolah per murid per tahun anggaran. Satuan biaya ini merupakan fungsi dari besarnya pengeluaran sekolah serta banyaknya murid sekolah. Dengan demikian, satuan biaya ini dapat diketahui dengan jalan membagi seluruh jumlah pengeluaran sekolah setiap tahun dengan jumlah murid sekolah pada tahun yang bersangkutan. Perhtitungan satuan biaya pendidikan dapat menggunakan formula sebagai berikut:

Sb (s,t) = f [K (s,t) : M (s,t)]

Keterangan:
Sb : Satuan biaya murid per tahun
K : Jumlah seluruh pengeluaran.
M : Jumlah murid
s : Sekolah tertentu, t : tahun tertentu

Contoh: Pada tahun 2008 sebuah satuan pendidikan (Madrasah Tsanawiyah Al-Falah) jumlah muridnya 200 siswa, pada tahun tersebut madrasah mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp. 20.000.000, lalu berapa unit cost per siswa dalam 1 tahun?
Selain itu biaya pendidikan menurut Nanang Fattah tidak hanya berorientasi pada uang saja, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan (oppurtunity cost) yang sering juga disebut income forgone (potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran, atau menyelesaikan studi).14 Yang dapat dihitung dengan formula berikut:

C(Pasca) = L(Pasca) + K(Pasca)

Keterangan:
C : Biaya pendidikan
L : Biaya langsung kuliah di Pasca
K : Jumlah rata-rata penghasilan tamatan Sarjana

Contoh: Si Adul sudah menyandang gelar sarjana, tapi Dia belum bekerja dan memutuskan untuk kuliah di pasca UIN Malang dan harus membayar uang SPP sebesar Rp. 3.500.000/semester. Seandainya Adul bekerja sebagai guru dengan gaji Rp. 100.000/bulan. Secara pendekatan oppurtunity cost berapa biaya pendidikan Adul selama kuliah di Pasca UIN Malang?

Adapun tujuan dari analisis biaya adalah untuk memberikan kemudahan, memberikan informasi pada para pengambil keputusan untuk menentukan langkah/cara dalam pembuatan kebijakan sekolah, guna mencapai efektivitas maupun efisiensi pengolahan dana pendidikan serta peningkatan mutu pendidikan.

Secara khusus, analisis manfaat biaya pendidikan bagi pemerintah menjadi acuan untuk menetapkan anggaran pendidikan dalam RAPBN, dan juga sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas SDM dengan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sedangkan bagi masyarakat, analisis manfaat biaya pendidikan ini berguna sebagai dasar/pijakan dalam melakukan ”investasi” di dunia pendidikan. Hal ini dirasakan penting untuk diketahui dan dipelajari, karena menurut sebagian masyarakat pendidikan hanya menghabis-habiskan uang tanpa ada jaminan/prospek peningkatan hidup yang jelas dimasa yang akan datang.

Landasan Filosofis Pembiayaan Pendidikan

Seperti yang dikemukakan didepan bahwa proses pendidikan tidak dapat berjalan tanpa dukungan biaya, karena segala kegiatan yang dilakukan sekolah perlu dana. Hampir dapat dipastikan bahwa proses pendidikan tidak dapat berjalan tanpa dukungan biaya yang memadai. Implikasi diberlakukannya kebijakan desentralisasi pendidikan, membuat para pengambil keputusan sering kali mengalami kesulitan dalam mendapatkan referensi tentang komponen pembiayaan pendidikan. Kebutuhan tersebut dirasakan semakin mendesak sejak dimulainya pelaksanaan otonomi daerah yang juga meliputi bidang pendidikan. Apalagi masalah pembiayaan ini sangat menentukan kesuksesan program MBS, KBK, ataupun KTSP yang saat ini diberlakukan.

Berangkat dari filosofis “Jer Basuki Mawa Beya” bahwa segala kegiatan yang dilakukan sekolah perlu dana. Pada dasarnya penyelenggaraan pendidikan perlu uang, oleh karenanya pendidikan terkesan mahal. Hal ini disebabkan pengelolaan pendidikan di sekolah dalam segala aktivitasnya perlu sarana dan prasarana untuk proses pengajaran, layanan dan pelaksanaan program supervisi, penggajian dan kesejahteraan para guru dan staf lainnya, kesemuanya itu memerlukan anggaran dan keuangan. Sehubungan dengan itu kepala sekolah dalam mengelola sekolah perlu memahami manajemen biaya pendidikan.

Hal paling krusial yang dihadapi pendidikan kita adalah masalah pembiayaan/keuangan, karena seluruh komponen pendidikan di sekolah erat kaitannya dengan komponen pembiayaan sekolah. Meskipun masalah pembiayaan tersebut tidak sepenuhnya berpengaruh langsung terhadap kualitas pendidikan, namun pembiayaan berkaitan dengan sarana-prasarana dan sumber belajar. Berapa banyak sekolah-sekolah yang tidak dapat melakukan kegiatan belajar mengajar secara optimal, hanya masalah keuangan, baik untuk menggaji guru maupun untuk mengadakan sarana dan prasarana pembelajaran. Dalam kaitan ini, meskipun tuntutan reformasi adalah pendidikan yang murah dan berkualitas, namun pendidikan yang berkualitas senantiasa memerlukan dana yang cukup banyak.

Biaya merupakan elemen yang sangat penting walaupun bukan satu-satunya komponen yang paling penting. Bagaimanapun bagusnya rancangan kurikulum, matangnya perencanaan pendidikan, akan tetapi ketika sampai pada tahap operasional dan terbentur adanya keterbatasan biaya maka perencanaan yang bagus tersebut kurang memiliki makna yang berarti, bahkan mungkin program pendidikan yang direncanakan sulit terealisasikan.
Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponennya, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaanya, akuntabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan, sehingga diperlukan studi khusus untuk lebih spesifik mengenal pembiayaan pendidikan ini.

Teori-Teori Pembiayaan Pendidikan

Berikut ini adalah beberapa teori pembiayaan pendidikan yang dapat menjadi acuan pelaksanaan pembiayaan sekolah atau madrasah.
1). Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung
Dalam teori dan praktek pembiayaan pendidikan, baik pada tataran makro maupun mikro, dikenal bebarapa kategori biaya pendidikan. Pertama, biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost).Biaya langsung adalah segala pengeluaran yang secara langsung menunjang penyelenggaraan pendidikan. Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa berupa pembelian alat-alat pelajaran, sarana belajar, biaya transportasi, gaji guru baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, orang tua maupun siswa sendiri.

Biaya tidak langsung adalah pengeluaran yang tidak secara langsung menunjang proses pendidikan tetapi memungkinkan proses pendidikan tersebut terjadi di sekolah, misalnya biaya hidup siswa, biaya transportasi ke sekolah, biaya jajan, dan harga kesempatan (opportunity cost).

2). Biaya Pribadi dan Biaya Sosial
Biaya pribadi (private cost) dan biaya sosial (social cost). Biaya pribadi adalah pengeluaran keluarga untuk pendidikan atau pengeluaran rumah tangga. Biaya social adalah biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk pendidikan, baik melalui sekolah maupun melalui pajak yang dihimpun oleh pemerintah kemudian digunakan untuk membiayai pendidikan.

Dalam konteks ini, biaya pendidikan mencakup semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga (yang dapat dihargakan dengan uang). Misalnya, iuran siswa adalah biaya, demikian juga sarana fisik, buku-buku pelajaran juga merupakan biaya.

Anggaran biaya pendidikan terdiri dari dua sisi yang berkaitan satu sama lain, yaitu sisi anggaran penerimaan dan anggaran pengeluaran untuk mencapai tujuan-tujuan pendidiaka. Anggaran penerimaan adalah pendapatan yang diperoleh setiap tahun oleh sekolah dari berbagai sumber resmi dan diterima secara teratur. Anggaran pengeluaran adalah jumlah uang yang dibelanjakan setiap tahun untuk kepentingan pelaksanaan pendidikan di sekolah.

Adapun pengeluaran sekolah dapat dikategorikan dalam beberapa item, yaitu: pengeluaran untuk pelaksanaan pelajaran, pengeluaran untuk tata usaha sekolah, pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, kesejahteraan pegawai, administrasi, pembinaan teknis edukatif dan pendataan.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2007 pasal 62 disebutkan bahwa:
1. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi dan biaya personal.
2. Biaya investasi satuan pendidikan meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, dan modal kerja tetap.
3. Biaya personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bias mengukuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.
4. Biaya operasional satuan pendidikan meliputi: gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji; bahan atau peralatan habis pakai; dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.

3). Biaya Rutin dan Biaya Modal
Secara umum, pembiayaan pendidikan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu; (1) biaya rutin (recurring cost) dan biaya modal (capital cost). Recurring cost pada intinya mencakup keseluruhan biaya operasional penyelenggaraaan pendidikan, seperti biaya administrasi, pemeliharaan fasilitas, pengawasan, gaji, biaya untuk kesejahteraan, dan lain-lain. Sementara, capital cost atau sering pula disebut biaya pembangunan mencakup biaya untuk pembangunan fisik, pembelian tanah, dan pengadaan barang-barang lainnya yang didanai melalui anggaran pembangunan.

Biaya rutin adalah biaya yang harus dikeluarkan dari tahun ke tahun, seperti gaji pegawai (guru dan non guru), serta biaya operasional, biaya pemeliharaan gedung, fasilitas dan alat-alat pengajaran (barang-barang habis pakai). Sementara biaya pembangunan, misalnya, biaya pembelian atau pengembangan tanah, pembangunan gedung, perbaikan atau rehab gedung, penambahan furnitur, serta biaya atau pengeluaran lain unutk barang-barang yang tidak habis pakai.

Dalam implementasi MBS, manajemen komponen keuangan harus dilaksanakan dengan baik dan teliti mulai dari tahap penyusunan anggaran, penggunaan, sampai pengawasan dan pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar semua dana sekolah benar-benar dimanfaatkan secara efektif, efisien, tidak ada kebocoran-kebocoran, serta bebas dari penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme.

Akumulasi biaya dibagi jumlah siswa akan diketahui besarnya biaya satuan (unit cost). Unit cost yang dimaksud di sini adalah unit cost per siswa. Unit cost per siswa memiliki empat makna. Pertama, unit cost per siswa dilihat dari aspek recurring cost. Kedua, unit cost per siswa dilihat dari aspek capital cost. Ketiga, unit cost per siswa dilihat dari akumulasi atau perjumlahan dari recurring cost dengan capital cost. Keempat, unit cost per siswa dilihat dari recurring cost, capital cost, dan seluruh biaya yang dikeluarkan langsung oleh siswa untuk keperluan pendidikannya.

Dengan demikian, secara sederhana biaya satuan per siswa yang belajar penuh (unit cost per full time student) tidak sulit dihitung. Perhitungannya dilakukan dengan menambahkan seluruh belanja atau dana yang dikeluarkan oleh isntitusi (total institution expenditures) dalam pelaksanaan tugas-tugas kependidikan dibagi dengan jumlah siswa reguler (full time student) dalam tahun tertentu, termasuk biaya yang mereka keluarkan untuk keperluannya sendiri dalam menjalani pendidikan. Referensi : kuliahbahasainggris.com

Pendidikan

One Day Farm, Sekolah Alam bagi Anak-anak di Virginia, AS

One Day Farm, Sekolah Alam bagi Anak-anak di Virginia

One Day Farm, Sekolah Alam bagi Anak-anak di Virginia, AS

Bagi siswa di “The Farm School” di kota Hamilton, negara bagian Virginia, alam bebas adalah kelas mereka. Anak-anak usia 3 dan 4 tahun belajar, dan bermain, di luar ruangan setiap hari.

One Day Farm, Sekolah Alam bagi Anak-anak di Virginia

“Pertanyaan pertama yang kita terima dari orangtua adalah ‘Bagaimana kecuali hujan?'” kata keliru satu pendiri sekolah tersebut, Jaclyn Jenkins. “Dan kita selalu mengatakan, ‘Bawa busana lebih!’ Kami selalu edukatif mereka. Mereka terhitung memiliki banyak energi. Otak mereka bekerja, kala mereka bergerak. Jadi target kita adalah selalu berada di luar ruangan.”

Kelas tanpa dinding

Alison Huff, seorang guru yang telah mengajar anak-anak di sekolah lain, mengatakan, di sekolah ini mereka gunakan type mengajar secara praktik.

“Ketika mereka studi tentang labu, kita menambahkan pengetahuan hitung-hitungan. Mereka studi tentang warna. Kami mengajarkan ukuran, kala menanam benih, kita perlu menambahkan jarak 12 inci di pada benih yang ditanam. Kami gunakan semua yang digunakan oleh sekolah biasa, tetapi di kebun.”

Selain menanam sayur-sayuran dan buah-buahan, anak-anak terhitung menunjang menyiapkan makanan dan membersihkan piring mereka.

“Kami coba menyisipkan masak-memasak sebanyak bisa saja agar mereka mampu melihat apa saja yang mampu mereka gunakan dari kebun dan mencicipinya daripada pergi ke supermarket dan membeli di sana,” kata Huff.

Ia menambahkan anak-anak TK ini terhitung sedikit studi bhs asing. “Saya mampu berbahasa Inggris dan Spanyol. Asisten kita berkata bhs Perancis dan Arab. Jadi dia menyelipkan bhs yang ia kuasai dan aku mengajarkan bhs Inggris dan Spanyol. Dan murid-murid kita yang berusia 3 tahun mampu berkata didalam empat bahasa.”

Belajar dari Kalkun

Hewan ternak terhitung bagian penting dari kurikulum. Jenkins menyatakan setiap bulan, mereka mempelajari satu hewan. Beberapa bulan lalu, mereka mempelajari sapi.

“Kami sesungguhnya memiliki sapi, dan kita bawa ke sekolah. Mereka mampu melihat sapi secara langsung. Kita studi apa yang dimakan oleh sapi tersebut. Kami gunakan sarung tangan kecil dan pura-pura memerah susu. Kami membawa dampak mentega dan terhitung yogurt.”

Anak-anak menghabiskan sementara satu bulan ulang bersama dengan kalkun yang diberi nama Wayland. “Kami mempelajari Wayland kalkun. Dia lucu. Dan terhitung besar sekali. Kadang-kadang sedikit menakutkan tetapi anak-anak selalu mendatanginya dan mengelusnya. Kami berdiskusi tentang bulu, perbedaan pada jantan dan betina, apa yang mereka makan. Anak-anak terhitung memberi Wayland makan.”

“One Day Farm”

Jaclyn dan suaminya Kenny mendapatkan gagasan ini sesudah mereka membeli peternakan seluas lima hektar di Hamilton, Virginia, yang disempurnakan bersama dengan tempat tinggal dari abad ke-18. Mereka menyatakan “One Day Farm” sebab seperti yang dijelaskan oleh Kenny, pasangan suami istri itu berjanji terhadap diri mereka tiap-tiap bahwa mereka bakal memiliki peternakan suatu hari nanti.

“Jac dan aku telah bersama sejak di SMA. Kami selalu menyatakan suatu hari nanti kita bakal memiliki tempat tinggal tua bersama dengan peternakan kecil. Ini target kami, begitu kita pensiun, kita bakal melacak peternakan ini. Kami tidak bermaksud rubah dan kita tidak bermaksud membeli peternakan, tetapi tiba-tiba menemukannya di internet. Lalu kita datang ke peternakan ini dan tidak idamkan pergi lagi.”

Mereka selanjutnya rubah ke tempat tinggal di peternakan ini, dan teman-teman beserta keluarga mereka jadi berkunjung. Mereka idamkan melihat seperti apa peternakan itu. Mereka idamkan melihat hewan-hewan di sana. “Dan begitulah kita memulai sekolah ini,” kata Jaclyn.

Pasangan itu melihat ada keperluan bakal pembelajaran di alam terbuka bersama dengan praktik langsung.

“Kami melihat anak-anak jaman sekarang yang tidak mampu lepas dari iPad atau iPhone mereka, dan mereka studi bersama dengan cara itu,” kata Kenny Jenkins.

“Mereka tidak studi bersama dengan tangan mereka lagi. Mereka tidak muncul rumah. Hampir semua anak-anak TK di daerah ini cuma menghabiskan sementara sekitar 15-20 menit di luar ruangan didalam satu hari,” imbuhnya.

Belajar, bermain dan menjelajah

Fokus terhadap alam terbuka dan praktik langsung ini yang membawa dampak Courtney Williams mendaftarkan anaknya yang berusia 3 tahun ke sekolah ini.

“Bagi saya, ini yang terbaik,” ujarnya. “Ia studi berhitung, mewarnai, dan semua pelajaran normal lainnya, tetapi ia selalu mampu menjadi anak-anak. Ia mampu berlompat-lompatan di kubangan air. Ia terhitung mampu memanjat pohon dan naik turun bukit. Ia selalu mampu merasakan semua itu, meskipun aku dan suami aku bekerja dan ia tidak mampu melaksanakan semua itu di rumah. Saya besar di lahan seluas 6 hektar. Saya lari-larian dan bermain di hutan dan aku idamkan anak aku mengalami perihal serupa. Ini jalur keluarnya.”

Anak-anak pulang bersama dengan pengalaman baru, pengetahuan baru dan kerap kali bersama dengan satu keranjang penuh sayur-sayuran.

“Selain mendapatkan pelajaran, ia terhitung membawa pulang sayuran sungguhan, ia terhitung membawa pulang telur,” malah Williams. “Ia membawa dampak aku lebih kreatif kala memasak, dan ia idamkan aku gunakan semua sayuran yang ia bawa sebab ia yang menanamnya sendiri.”

Dan sesungguhnya dampak seperti itu yang di idamkan oleh sekolah alam, yaitu mengajarkan semua bagian keluarga dan ulang membawa alam bebas ke area kelas.

Sumber : https://www.ruangguru.co.id/

Pendidikan

Indonesia-China Galakkan Kerjasama Pendidikan dan Teknologi

Indonesia-China Galakkan Kerjasama Pendidikan dan Teknologi

Indonesia-China Galakkan Kerjasama Pendidikan dan Teknologi

Empat puluh lima ilmuwan dan 15 menteri turut dan juga dalam rombongan Wakil Perdana Menteri China Liu Yandong ke Solo jadi awal pekan ini. Menjalin kerjasama pendidikan dan teknologi menjadi tidak benar satu tujuan lawatan mereka.

Indonesia-China Galakkan Kerjasama Pendidikan dan Teknologi

Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat China Liu Yandong dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani Selasa malam (28/11) menandatangani kerjasama pendidikan, teknologi dan sumber daya manusia dalam pertemuan tingkat tinggi “Hubungan Antar Masyarakat Indonesia dan China”.

Acara yang diselenggaraan di Solo, Jawa Tengah, ini terhitung sukses mengulas hampir semua bentuk kerjasama. Juru berbicara Kemenko Pembangunan Manusia & Kebudayaan, Agus Sartono menyebutkan hal ini kepada wartawan.

“Penandatangan enam dokumen kerjasama. Mestinya tersedia tujuh, namun yang satu kami pending karena tersedia hal kecil yang baru dapat kami menyelesaikan th. depan. Ini berkenaan pemakaian dan pembangunan HTGF, atau pemakaian tenaga nuklir untuk keperluan damai. Tahun pertama kami menandatangani tujuh nota kesepahaman (MoU), th. kedua tersedia delapan MoU, th. ketiga atau th. 2017 ini tersedia enam MoU yang ditandatangani, dan th. depan masih tersedia 4-5 MoU lagi. Saya kira yang tersedia di benak penduduk berkenaan kerjasama bersama ini adalah : apakah berarti tenaga kerja dari China atau China ini dapat membanjiri atau berdatangan ke Indonesia? Tidak! Justru tempo hari Wakil Presiden Jusuf Kalla telah meyakinkan bahwa investasi dari luar negeri, terhitung China, kudu memberi tambahan transfer pengetahuan dan ketrampilan pada tenaga kerja lokal setempat, dan ini dapat menghilangkan persepsi bahwa investasi itu selalu diikuti bersama arus tenaga kerja dari China,” papar Agus.

Dalam peluang yang serupa Menteri Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir menyebutkan kerjasama Indonesia dan China ini dapat terlampau untung karena dilaksanakan dalam bidang yang terlampau strategis yakni pendidikan, teknologi dan sumber daya manusia.

“Tindak lanjut MoU ini adalah ‘student mobility’ atau mengirim mahasiswa Indonesia ke China untuk sekolah, menyita S2 dan S3. Jumlahnya tersedia sekitar 700 orang. Sedang terjadi programnya. Lha saat ini yang kami kembangkan adalah bagaimana actions plan yang kami bikin berkenaan science technology dan innovation. Karena inovasi di China atau China ini lebih cepat dan maju. Kedua, Indonesia sesuai RPJPMN-nya dapat membangun yang namanya ‘technopark 100’, yang ditugaskan pada Kemenristekdikti adalah mengkoordinasikannya. Kemenristekdikti dapat membangun sembilan ‘technopark’ di Indonesia dan sedang kami kembangkan juntuk kerjasama bersama China atau China, Taiwan, Swiss, Jerman dan Belanda. Ketiga, berkenaan pembangunan pelabuhan atau port construction, kemaritiman dapat menjadi penghubung antar pulau. Ini menjadi terlampau penting,” ujar Nasir.

Technopark yang dimaksud adalah pembangunan kawasan sains dan teknologi. Pembangunan ini merupakan tidak benar satu program Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo. Menurut rancangan technopark ini dapat dibangun di lebih dari satu daerah, antara lain Surakarta, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Utara dan Papua. Program ini dapat bekerjasama bersama perguruan tinggi, pemerintah tempat dan pihak industri.

Sayangnya rombongan Wakil Perdana Menteri China ini tidak memberi tambahan keterangan apapun kepada para wartawan.

Wakil Perdana Menteri China Liu Yandong mempunyai 15 menteri dan 45 ilmuwan, yang tidak saja turut dan juga dalam pertemuan bilateral bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla dan pejabat terkait, namun terhitung melihat segera museum manusia purba di Sangiran, koleksi panda di Taman Safari dan menghadiri pertemuan tingkat tinggi Indonesia-China di Solo.