keyboard_arrow_right
unxjg
Pendidikan

Murid Kelas 6 Dorong Gubernur Virginia Barat Naikkan Gaji Guru

Murid Kelas 6 Dorong Gubernur Virginia Barat Naikkan Gaji Guru

Murid Kelas 6 Dorong Gubernur Virginia Barat Naikkan Gaji Guru

Murid Kelas 6 Dorong Gubernur Virginia Barat Naikkan Gaji Guru
Murid Kelas 6 Dorong Gubernur Virginia Barat Naikkan Gaji Guru

Saat ribuan guru, staf dan siswa kembali ke sekolah di West Virginia pada Kamis

(1/3), mereka berterima kasih kepada anak kelas enam atas perannya mengakhiri aksi mogok empat hari mengenai gaji dan tunjangan.

Pada Selasa (27/2), Gubernur Jim Justice mengatakan bahwa guru dan pegawai pendidikan lainnya akan memperoleh kenaikan gaji sebesar 5 persen pada tahun pertama.

Pada konferensi pers untuk mengumumkan kesepakatan tersebut, gubernur itu menyebut seorang anak laki-laki berusia 12 tahun telah mengubah pemikirannya mengenai masalah tersebut.

Gideon Titus-Glover, yang tidak bisa menghadiri sekolah menengahnya

karena aksi mogok tersebut, telah ikut unjuk rasa. Pada Senin (26/2), dia dan ibunya bergabung dengan para guru dalam pertemuan masyarakat di Wheeling untuk mendapat kesempatan berbicara langsung dengan gubernur.

Ketika mendapat giliran berbicara, Gideon bertanya mengapa menurut gubernur itu lebih bijaksana menaikkan anggaran pariwisata daripada anggaran sekolah.

Gubernur mencoba menjelaskan bahwa investasi pariwisata dapat mengubah satu dolar menjadi delapan dolar dan itu merupakan investasi yang bagus bagi negara bagian.

Tapi tanggapan Titus-Glover mengejutkan sang gubernur.

“Bukankah investasi pada guru cerdas yang akan membuat saya cerdas,

dan kemudian saya pada gilirannya, dapat berubah dan melakukan hal-hal yang baik dan cerdas untuk negara kita?” jawab anak itu.

Setelah merenungkannya, Gubernur Justice mengatakan Titus-Glover benar.

 

Baca Juga :

Recent Posts

Pendidikan

Mainan Lego Berulang Tahun ke-60

Mainan Lego Berulang Tahun ke-60

Mainan Lego Berulang Tahun ke-60

Mainan Lego Berulang Tahun ke-60
Mainan Lego Berulang Tahun ke-60

Salah satu mainan paling terkenal di dunia berulang tahun ke-60 tanggal 28 Januari kemarin.

Lego, mainan inovatif yang memukau banyak orang itu, merayakan sebuah momen penting.

Mainan Lego yang terkenal di seluruh dunia merayakan ulang tahun ke-60. Warga kelahiran Denmark Ole Kirk Christiansen mendirikan perusahaan itu tahun 1932, tapi blok-blok Lego ikonik yang kita kenal baru dipasarkan tahun 1958.

Kini, Lego terus memproduksi ribuan blok mainan untuk memenuhi permintaan di seluruh dunia.

 

Tom Hall, Pimpinan Lego Education International

van dibanding sebelumnya di seluruh dunia dan tidak perlu bahasa. Apabila kita menaruh lego di depan anak-anak dari negara manapun di dunia, mereka langsung memainkannya. Ini mainan ikonik. Dan juga permainan yang menular.”

Lego mengklaim ada lebih dari 900 juta cara untuk mengombinasikan enam blok-blok kecil yang punya dua sampai empat benjolan itu.

John Baulch, pemilik Toy World mengatakan, Lego adalah mainan yang mendidik.

“Lego mengajar anak-anak supaya kreatif, imajinatif, kesadaran akan ruang, kemampuan menciptakan sesuatu dari nol. Lego bisa dikatakan sebagai mainan edukatif yang orisinil,” ujarnya.
Bantuk sebagian bangunan dari “Forbidden City”, komplek istana di Beijing, yang disusun dari balok-balok lego (foto: ilustrasi).
Bantuk sebagian bangunan dari “Forbidden City”, komplek istana di Beijing, yang disusun dari balok-balok lego (foto: ilustrasi).

Lego terus memodernisasi mainannya itu.

“Lego tidak pernah puas, dan selalu memperkenalkan konsep-konsep baru dan ide-ide baru. Selalu menembus batas. Mainan ini juga selalu mengikuti perkembangan jaman, memperhatikan hal-hal yang menjadi perhatian anak-anak, dan mengadaptasi cakupannya agar anak-anak merasa tertarik dan kagum pada konsep Lego seperti 60 tahun lalu ketika pertama kali diluncurkan,” tambah John Baulch.

Perlu waktu hampir satu dasawarsa (1949-1958) bagi Lego untuk memperbaiki bentuknya dari blok-blok yang berongga ke blok-blok yang bisa saling terkait seperti sekarang ini.

Merk Lego ini kini punya video game, taman hiburan dan film. Satu film baru akan dirilis tahun 2019. Blok-blok mainan ini terus mengundang imajinasi bagi segala usia

 

Sumber :

https://www.viki.com/users/danuaji88/about

Pendidikan

Memoar Kaisar Hirohito Terjual $275.000 di New York

Memoar Kaisar Hirohito Terjual $275.000 di New York

Memoar Kaisar Hirohito Terjual $275.000 di New York

Memoar Kaisar Hirohito Terjual $275.000 di New York
Memoar Kaisar Hirohito Terjual $275.000 di New York

Memoar yang ditulis Kaisar Jepang Hirohito berisi kenangan mengenai Perang Dunia II

terjual di pelelangan di Manhattan, Rabu (6/12), seharga $275.000, hampir dua kali lipat dari harga teratas yang diperkirakan

Hirohito mendiktekan dokumen setebal 173 halaman kepada ajudannya tak lama setelah perang berakhir. Dokumen tersebut dibuat atas permintaan Jenderal Douglas MacArthur, sebagai administrator yang mengatur Jepang saat itu
An undated photo of Japanese Emperor Hirohito.
An undated photo of Japanese Emperor Hirohito.

Pembeli memoar Hirohito berasal dari Jepang, menurut Alice Lok,

juru bicara rumah lelang Bonhams. Tidak ada informasi lain yang bisa diberikan.

Memoar itu juga dikenal sebagai monolog kekaisaran, yang mencakup peristiwa-peristiwa mulai dari pembunuhan panglima perang Zhang Zuolin Manchuria oleh Jepang hingga pidato penyerahan diri Jepang oleh kaisar yang disiarkan pada 14 Agustus 1945.

Isi dokumen itu menimbulkan kegemparan pada saat diterbitkan di Jepang pada 1990, tak lama setelah kaisar meninggal.

Dua volume yang masing-masing diikat dengan tali dan isinya ditulis secara vertikal

dengan pensil. Dokumen tersebut ditranskrip oleh Hidenari Terasaki, ajudan kekaisaran dan mantan diplomat yang bertugas sebagai penterjemah Hirohito saat bertemu dengan McArthur.

Teks monolog itu diyakini oleh kalangan sejarawan, telah disusun sedemikian rupa dengan tujuan untuk melindungi Hirohito, bila dia diminta pertanggung jawaban di pengadilan setelah perang. Sebuah film dokumenter 1997 oleh televisi Jepang, NHK, menemukan terjemahan bahasa Inggris dari memoar tersebut yang mendukung pandangan itu.

Transkrip tersebut disimpan oleh istri Terasaki yang berkebangsaan Amerika, Gwen Terasaki, setelah kematiannya pada 1951 dan kemudian diwariskan kepada anak perempuan mereka, Mariko Terasaki Miller dan keluarganya

 

Sumber :

https://worldcosplay.net/member/799880

Pendidikan

Menelusuri Jejak Imigran Jawa Di Suriname

Menelusuri Jejak Imigran Jawa Di Suriname

Menelusuri Jejak Imigran Jawa Di Suriname

Menelusuri Jejak Imigran Jawa Di Suriname
Menelusuri Jejak Imigran Jawa Di Suriname

Wajah Sidin pada pas foto di surat kesehatannya

terlihat gagah. Pemuda asal Pekalongan itu menggunakan ikat kepala kain khas pemuda daerah pesisir Jawa, tidak berbaju dan bercelana putih.

Dalam foto tahun 1908 yang dibuat pemerintah kolonial Belanda untuk pelengkap surat kesehatan sebagai syarat mengiriman Sidin ke Suriname itu dia berpose duduk santai dengan tangan di atas paha.

Bagi cucu Sidin, foto itu mempunyai arti penting dan bersejarah.
Maurit S Hassankhan/Sandew Hira memuat foto Sidin itu dalam buku Historische Database Van Suriname, Gegevens Over de Javaanse Immigranten (Data Sejarah Suriname, Data Imigrasi Orang Jawa) yaitu buku yang berisi data para imigran Jawa ke Suriname.

Buku yang terbit atas gagasan Amrit Consultancy dan Institut Riset Ilmu Sosial Universitas Suriname itu secara menakjubkan berhasil memuat lengkap data menyangkut 32.965 orang Jawa yang 114 tahun lalu menjadi pekerja dan bermigrasi ke Suriname.

 

Dalam rencana semula buku itu sebenarnya

untuk memuat data imigran Hindustani ke Suriname, namun saat proyek berjalan muncul ide untuk memasukkan pula data jati diri orang-orang Jawa yang dikirim pemerintah Kolonial Belanda ke daerah jajahannya, Suriname, sejak 9 Agustus 1890 hingga 13 Desember 1939.

Pada periode itu terdapat 32.965 orang Jawa yang di kirim ke Suriname, suatu negara koloni kecil di Amerika Selatan.

Para pekerja asal Jawa itu pada 1890-1914 di berangkatkan dari Jawa dalam kelompok-kelompok kecil dari daerah pemberangkatan mereka dari Jakarta (Batavia) dan Semarang.

Di suriname mereka dipekerjakan di ladang dan pabrik perkebunan tebu, kopi, cokelat dan lainnya. Hanya pada angkatan ke 77 pada tahun 1904 mereka dipekerjakan dalam pembuatan jalan kereta api.

Selama perang Perang Dunia I para imigran Jawa itu juga ada yang dipekerjakan di tambang bauksit di Moengo, Suriname.

Dalam data yang tercantum pada buku itu dimuat nama imigran

nama orang tua, jenis kelamin, usia saat diberangkatkan, hubungan keluarga dengan pekerja lainnya, tinggi badan, agama (semua disebutkan Islam), tempat tinggal terakhir, tempat keberangkatan, tanggal tiba di Suriname, lembaga perekrut, perusahaan yang mempekerjakan, daerah tempat bekerja di Suriname, nomer kontrak dan keterangan perubahan jika ada.

Mereka dikontrak untuk bekerja selama lima tahun, tetapi kenyataannya sebagian besar dari mereka terpaksa bekerja seumur hidupnya.
Dalam buku itu disebutkan hingga pada tahun 1954 sekitar 8.684 (26 persen)imigran tersebut sudah dikembalikan ke kampung halaman masing-masing.

Mereka yang ingin tinggal menjadikan Suriname sebagai kampung halaman, tetapi disebutkan pula ada sebagian orang yang memilih menjadi warga negara Belanda ketika Suriname menjelang merdeka (1965) karena ingin mendapatkan tunjangan sosial.

Kisah Suwarto Mustaja, tokoh masyarakat Jawa Suriname, bisa menjadi contoh.
Suwarto salah seorang keturunan para imigran Jawa pada saat muda gigih berjuang bersama orang tua dan masyarakat Jawa lainnya untuk mendapatkan hak mereka agar bisa dikembalikan ke Indonesia, tetapi ketika pemerintah Belanda mengijinkan mereka pulang, ibunya justru menangis dan memilih untuk tetap tinggal di Suriname.

“Di sini kamu (Suwarto) lahir dan di sini aku akan tinggal,” kata Ibu Suwarto dengan linangan air mata.

Dengan berat hati Suwarto muda akhirnya memilih untuk tetap tinggal di Suriname, meskipun bapaknya mendesaknya agar kembali ke Indonesia.
Meski pahit hidup di perkebunan di Suriname, terpaksa mereka terima apa adanya.

Kini keturunan mereka tidak lagi bekerja di perkebunan milik perusahaan Belanda seperti orang tuanya karena perusahaan perkebunan Belanda sudah tutup atau bangkrut.

Sebagian kecil dari mereka yang mendapatkan ‘kebebasan’ itu beralih profesi menjadi pedagang dan ternyata meraih sukses, bahkan ada yang mampu mendapat pemasukan bersih US$20.000 per bulan seperti yang dialami Wilem Sugiono.

Tetapi, ada banyak pula bekas imigran dan keturunannya yang masih tetap berladang di tanah seluas 1,25 hektar dengan beragam tanaman.
Jenifer, ibu seorang anak relatif beruntung dibandingkan keturunan imigran Jawa lainnya.

Perempuan yang bersuamikan pria bernama Azis itu mengelola kafe kecil di samping hotel meiliknya.

“Saya hanya bisa sedikit berbahasa Jawa,” katanya dalam bahasa Inggris yang fasih.

Di samping bahasa Inggris, dia juga fasih berbahasa Belanda, sebagaimana sebagian besar orang keturunan Jawa lainnya.

Dengan memiliki hotel berbintang dua, cafe dan kompleks perbelanjaan dia terlihat hidup nyaman di Paramaribo, ibukota Suriname.

Paramaribo adalah kota kecil, dibandingkan kota di Indonesia, tetapi kota itu terlihat eksotik dengan gedung-gedung peninggalan Belanda yang memenuhi kota.

Tonggak hubungan
Kedubes RI di kota itu sejak 1980 hingga sekarang berusaha menjaga hubungan baik dengan Suriname, terutama dengan warga Jawa dan keturunannya yang kini berjumlah 74.760 (17,8%) dari 481.146 penduduk Suriname.

Tonggak hubungan baik itu terlihat pada pendirian Gedung Sono Budoyo pada 1990 yang mendapat bantuan dari Soeharto, Persiden RI pada masa itu.
Gedung disertai sebuah tugu yang dibangun pada tahun 1990 itu sekaligus untuk memperingati 100 tahun kedatangan orang Jawa di Suriname.

Pada tahun 2005, di suriname akan diadakan peringatan tahun ke-115 kedatangan orang Jawa di negara yang merdeka pada 25 November 1975 itu.
Pemerintah Indonesia dan Suriname melanjutkan tradisi bersahabat dengan mengadakan sejumlah pertemuan, diantaranya pertemuan Komisi Bersama Bilateral I RI-Suriname yang berlangsung di Paramaribo pada 03-05 April 2003.
Pada 22 November 2004 diadakan sidang lanjutan di Jogjakarta. Pada pertemuan kedua itu disepakati adanya sejumlah kegiatan diantaranya pelatihan di bidang otomotif bagi warga Suriname yang akan dilaksanakan di Indonesia pada 2005.
Indonesia juga akan mengundang pembicara dari Suriname untuk membahas peringatan 115 tahun imigrasi orang Jawa ke Suriname dan 100 tahun pelaksanaan transmigrasi di Indonesia.

Dalam pertemuan Direktur Pemukiman Kembali Ditjen Mobilitas Penduduk Depnakertrans Sugiarto Sumas dengan Menteri Perencanaan dan Kerjasama Pembangunan Suriname Keremchand Raghoebarshing dan Menteri Perburuhan, Pengembangan Teknologi dan Lingkungan Clifford Marica di Paramaribo terungkap keinginan kedua pihak untuk mengadakan lebih banyak kegiatan.
Diantaranya, pengiriman tenaga ahli dari Indonesia untuk melatih tenaga Suriname di berbagai bidang diantaranya pertanian, pariwisata, agribisnis, agroindustri dan pengelolaan hutan.

Suriname juga sangat berminat untuk mempelajari cara Indonesia mengembangkan daerah produktif baru untuk perkebunan atau pengembangan suatu wilayah.

Komisi bersama, sebenarnya sudah membahas berbagai bidang kerja sama kedua negara, seperti pertukaran pengalaman pembangunan nasional, meningkatkan perdagangan kedua negara, investasi, angkutan udara, turisme, kerja sama di bidang teknis, bantuan di bidang pelatihan, pendidikan, beasiswa non geloar, kerja sama di bidang komunikasi dan informasi, pencegahan kejahatan, pertahanan, dan sejumlah isu lainnya.

Kerinduan para imigran dan keturunannya akan budaya Jawa juga terungkap dalam pertemuan masyarakat keturunan imigran Jawa dengan Dubes RI Suparmin Sunjoyo dan Sugiarto Sumas di Distrik Wanica, dekat dari Paramaribo.
Sarmo, seorang warga keturunan Jawa pada kesempatan itu mendesak agar Indonesia segera megirim Guru Bahasa Jawa, Dalang, dan pengajar tari untuk mereka.

Dia juga mengharapkan Indonesia bisa mengirim pakar pertanian. Sementara keluarga imigran lainnya menagih janji pengiriman guru pencak silat.
Suparmin menjawabnya dengan simpati.

“Saya sudah bertemu dengan Sultan HB X, beliau menyangupi untuk mengirim guru bahasa Jawa, dalang dan guru tari. Jadi, saya sudah berusaha mewudjukan keinginan tersebut sebelum Pak Sarmo memintanya,” kata Suparmin lalu disambut tepuk tangan hadirin.

Mengenai, permintaan guru pencak silat, Dubes juga sudah membicarakannya dengan Prabowo, tokoh pencak silat Indonesia, sedangkan untuk penyediaan tenaga ahli pertanian, Suparmin akan membicarakannya dalam pertemuan lanjutan ketiga Komisi Bersama kedua negara dalam waktu dekat.
Interaksi Indonesia dan Suriname bisa tergambar pada antusiasme dan desakan Sarmo dan kawan-kawan akan peningkatan keterlibatan Indonesia dalam sendi-sendi kehidupan mereka.

“Indonesia adalah saudara kulo. Negara mbah kulo,” kata Sarmo.
Sarmo dan kawan-kawan memang “saudara” bagi orang Indonesia, meski berlainan kewarganegaraan.

Baca Juga : 

Pendidikan

Palagan Ambarawa 12-15 Desember 1945

Palagan Ambarawa

Palagan Ambarawa 12-15 Desember 1945

Palagan Ambarawa
Palagan Ambarawa

 

Perjuangan heroik rakyat Indonesia

dalam mempertahankan dan memperjuangkan Kemerdekaannya sungguh tidak bisa diabaikan begitu saja, mereka bahu membahu dengan segala golongan, mulai dari petani, pedagang, guru, hingga para pelajar bersama dengan tentara tanpa mengenal rasa lelah, takut serta kelaparan berjuang menghadapi desingan peluru serta berondongan persenjataan modern milik para penjajah.

 

Sungguh perjuangan yang sangat menguras tenaga

dan airmata, mengorbankan segalanya baik nyawa ataupun harta. Beribu bahkan berjuta nyawa rakyat Indonesia melayang demi kemerdekaan bangsa ini, mereka rela menyerahkan nyawanya menjadi martir demi anak cucunya nanti.

Seperti yang terjadi di Ambarawa, sebuah daerah yang terletak di sebelah selatan kota Semarang-Jawa Tengah, dimana rakyat beserta tentara Indonesia berjuang mempertahankan daerahnya dari cengkeraman tentara sekutu yang mencoba membebaskan para tahanan tentara Belanda ( NICA ).

 

Pada tanggal 20 Oktober 1945

tentara Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Bethell mendarat di Semarang dengan maksud mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang berada di Jawa Tengah. Kedatangan sekutu ini diboncengi oleh NICA. Kedatangan Sekutu ini mulanya disambut baik, bahkan Gubernur Jawa Tegah Mr. Wongsonegoro menyepakati akan menyediakan bahan makanan dan keperluan lain bagi kelancaran tugas Sekutu, sedang Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.

Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA telah sampai di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, justru mempersenjatai mereka sehingga menimbulkan amarah pihak Indonesia. Insiden bersenjata timbul di kota Magelang, hingga terjadi pertempuran. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) dan membuat kekacauan. TKR Resimen Magelang pimpinan M. Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara Sekutu dari segala penjuru. Namun mereka selamat dari kehancuran berkat campur tangan Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan suasana. Kemudian pasukan Sekutu secara diam-diam meninggalkan Kota Magelang menuju ke benteng Ambarawa. Akibat peristiwa tersebut, Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letnan Kolonel M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka. Gerakan mundur tentara Sekutu tertahan di Desa Jambu karena dihadang oleh pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo yang diperkuat oleh pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta.

 

Sekutu kembali dihadang oleh Batalyon I Suryosumpeno di Ngipik.

Pada saat pengunduran, tentara Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Isdiman berusaha membebaskan kedua desa tersebut, Letnan Kolonel Isdiman gugur. Sejak gugurnya Letkol Isdiman, Komandan Divisi V Banyumas, Soedirman merasa kehilangan perwira terbaiknya dan ia langsung turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Kehadiran Kolonel Sudirman memberikan nafas baru kepada pasukan-pasukan RI. Koordinasi diadakan diantara komando-komando sektor dan pengepungan terhadap musuh semakin ketat. Siasat yang diterapkan adalah serangan pendadakan serentak di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan lain-lain.

Tanggal 23 Nopember 1945 ketika matahari mulai terbit, mulailah tembak-menembak dengan pasukan Sekutu yang bertahan di kompleks gereja dan pekuburan Belanda di Jalan Margo Agung. Pasukan Indonesia antara lain dari Yon Imam Adrongi, Yon Soeharto dan Yon Sugeng. Tentara Sekutu mengerahkan tawanan-tawanan Jepang dengan diperkuat tanknya, menyusup ke kedudukan Indonesia dari arah belakang, karena itu pasukan Indonesia pindah ke Bedono.

Pada tanggal 11 Desember 1945, Kolonel Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar. Pada tanggal 12 Desember 1945 jam 04.30 pagi, serangan mulai dilancarkan. Pertempuran berkobar di Ambarawa. Satu setengah jam kemudian, jalan raya Semarang-Ambarawa dikuasai oleh kesatuan-kesatuan TKR. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit, Kolonel Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya terputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang.

Kedahsyatan Palagan Ambarawa juga tercermin dalam laporan pihak Inggris yang menulis: “The battle of Ambarawa had been a fierce struggle between Indonesian troops and Pemuda and, on the other hand, Indian soldiers, assisted by a Japanese company….” Yang juga ditambahi dengan kalimat, “The British had bombed Ungaran intensively to open the road and strafed Ambarawa from air repeatedly. Air raids too had taken place upon Solo and Yogya, to destroy the local radio stations, from where the fighting spirit was sustained…”
Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa dan diperingatinya Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika.

Dan hingga kini, darah pejuang yang membasahi bumi Ambarawa adalah bukti dari keteguhan serta pengorbanan untuk mempertahankan harga diri bangsa yang harus tetap kita pertahankan sampai kapanpun.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21234/cara-memilih-jam-tangan-pria-yang-bagus-dan-berkualitas

Pendidikan

Perancang Lambang Garuda Pancasila Yang Terlupakan

Perancang Lambang Garuda Pancasila Yang Terlupakan

Perancang Lambang Garuda Pancasila Yang Terlupakan

Perancang Lambang Garuda Pancasila Yang Terlupakan
Perancang Lambang Garuda Pancasila Yang Terlupakan

Siapa tak kenal burung Garuda

berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.

Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

 

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya,

pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.

Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.

Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.

Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II

menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.

Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21233/fungsi-sitoplasma

Pendidikan

Penyebab Inflasi 0,13%: Kenaikan Biaya SD, SMA Hingga Kuliah

Penyebab Inflasi 0,13% Kenaikan Biaya SD, SMA Hingga Kuliah

Penyebab Inflasi 0,13%: Kenaikan Biaya SD, SMA Hingga Kuliah

Penyebab Inflasi 0,13% Kenaikan Biaya SD, SMA Hingga Kuliah
Penyebab Inflasi 0,13% Kenaikan Biaya SD, SMA Hingga Kuliah

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi sebesar 0,13%

pada September 2017. Penyebabnya adalah biaya pendidikan dan rekreasi dengan inflasi mencapai 1,01% dan andil 0,08%.

Komponen turunannya antara lain kenaikan biaya uang kuliah dengan andil 0,04%, uang sekolah SD-SMA andilnya 0,01% dan kenaikan tarif di komponen rekreasi 0,01%.

“Pendidikan rekreasi inflasi 1,01% dan andilnya 0,08%,” ungkap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (2/10/2017).

Pendorong inflasi lainnya adalah kelompok makanan dan minuman jadi serta rokok dengan inflasi 0,34% dan andil 0,06%.

“Kalau dilihat sebetulnya komoditasnya banyak, sumbangnya 0,01%,

beberapa komoditas tersebut, nasi lauk pauk, rokok kretek dan filter, kecil kalau digabung menjadi 0,06%,” jelasnya.

Selanjutnya perumahan, air, listrik, gas, dan BBM dengan inflasi 0,21%, dan andil hanya 0,01%. Beberapa barang di dalam kelompok ini yang alami kenaikan adalah besi beton, kenaikan tarif Pembantu Rumah Tangga (PRT),

“Sandang inflasi 0,52% sumbang 0,03%, komoditas dominan harga emas, di pasar internasional andilnya 0,02%, kesehatan tidak,” terangnya.

Bagaimana dengan bahan makanan?

Harga bahan makanan terpantau turun secara rata-rata nasional.

Bahan makanan justru deflasi 0,53% dan andil -0,11%. Deflasi terjadi untuk komponen bawang merah, daging ayam ras dan cabai rawit.

“Sekali lagi ini capaian bagus, kita perlu menjaga bulan ke depannya,” pungkasnya. (mkj/hns)
bps inflasi pendidikan
Ikuti perkembangan terbaru Pemilu 2019 hanya di detikPemilu. Klik di sini.

 

Baca Juga :

Pendidikan

Ikhtiar Agar Anak-anak Mendapat Kehidupan dan Pendidikan yang Layak

Ikhtiar Agar Anak-anak Mendapat Kehidupan dan Pendidikan yang Layak

Ikhtiar Agar Anak-anak Mendapat Kehidupan dan Pendidikan yang Layak

Ikhtiar Agar Anak-anak Mendapat Kehidupan dan Pendidikan yang Layak
Ikhtiar Agar Anak-anak Mendapat Kehidupan dan Pendidikan yang Layak

Tidak semua anak beruntung dan bisa mendapatkan hak-haknya. Jangankan pendidikan, kebutuhan primer kayak sandang, pangan dan papan pun sulit mereka dapatkan.

Dilansir berbagai sumber, ada 81,3 juta anak-anak di Indonesia. Sebanyak 4,8 juta anak terlantar dan 230 ribu anak jalanan tersebar di negeri ini. Ada 2,5 juta anak yang putus sekolah dan 4,3 juta anak sudah jadi pekerja di usia belia. Belum lagi, 11 ribu anak jalanan ada di Jakarta dan sekitarnya, Bun.

Melihat fenomena ini, sekumpulan relawan anak muda mengambil inisiatif mendirikan suatu komunitas untuk membantu mendukung hak anak terutama anak-anak marginal yakni anak jalanan, pengamen, pengemis dan lainnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Baca juga:

Karena Semua Anak Berhak Mendapat Pendidikan yang Baik…

“Para anak muda ini yang awalnya merupakan volunteer di tempat lain, tergerak untuk melayani anak-anak marginal dan berinisiatif membuat komunitas untuk mendukung hak mereka. Jadi mereka terjun langsung dan ngajakin adik-adik di jalanan,” papar Frisca Hutagalung, Direktur Sahabat Anak ditemui di sela-sela acara Festival Relawan Nasional 2017 di Gandaria City, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Dimulai dari ajakan untuk mengobati karena para anak marginal ini cenderung mendiamkan luka yang dialami, anak-anak ini diajak bermain dan belajar. Diceritakan Frisca, komunitas ini sudah ada sejak tahun 1997. Berawal dari acara merayaka Hari Anak Nasional di tanggal 23 Juli, terbentuklah Jambore Anak Jalanan. Di tahun-tahun berikutnya diadakan acara rutin.
Ikhtiar Agar Anak-anak Mendapat Kehidupan dan Pendidikan yang LayakIkhtiar Agar Anak-anak Mendapat Kehidupan dan Pendidikan yang Layak (Foto: Instagram/sahabatanak)

Bahkan, di tahun 2010 Jambore Anak Jalanan berhasil menjangkau 1.924 anak marginal plus 500

anak pengungsi letusan Merapi di Yogyakarta lho, Bun. Nah, di tahun ini Sahabat Anak jadi organisasi mandiri dan sebagai badan hukum resmi bernama Yayasan Komunitas Sahabat Anak Jakarta.

“Pengajaran memang fokus kita namun nggak hanya itu, kita juga berharap bisa kasih empowerement untuk para orang tua dan kesadaran-kesadaran akan hak anak karena ada beberapa hak anak yang harus kita penuhi,” tutur Frisca.

Tujuan dari komunitas yang sudah berdiri kurang lebih 20 tahun ini supaya anak jalanan lepas dari jalanan yang rentan akan bahaya dan membuat stigma untuk mereka. Sehingga, anak-anak itu tahu kalau mereka punya hal sama untuk sekolah dan berkarir juga mereka berharga dan penting jadi sosok yang percaya diri. Nggak cuma itu, anak-anak ini juga diharap bisa mandiri.

Dalam menjalankan misi mereka, kata Frisca mengubah mindset orang tua

yang notabene menyuruh anak-anaknya ke jalanan jadi tantangan tersendiri padahal semestinya mereka belajar. Makanya, pendekatan yang dilakukan materi pembelajaran disisipkan dalam kegiatan bermain.

“Kita juga memberi contoh nyata yaitu para kakak relawannya juga awalnya adalah sama seperti mereka, anak jalanan. Kayak Febi, anak ke-6 dari 10 bersaudara bantu ibunya jualan gorengan sambil ikut kelas belajar di Cijantung. Febi dapat beasiswa sampai lulus jadi Sarjana Kesehatan Masyarakat,” kata Frisca.

Terus ada Asep yang sempat terjerumus narkoba dan kabur dari rumah tapi kini berhasil jadi Sarjana Teknologi Informatika dan menjadi tulang punggung keluarga. Ada juga Yanti, anak pemulung yang prestasinya cemerlang dan sekarang bisa bikin kehidupan keluarganya lebih baik. Lewar contoh nyata itu, kata Frisca diharap anak-anak jalanan bisa termotivasi dan semangat

 

Sumber :

https://cs.byu.edu/job-posting/school-fundraisers-tips-raising-funds-your-school

Pendidikan

Pembangunan, Keluarga, dan Nasib Anak Kita

Pembangunan, Keluarga, dan Nasib Anak Kita

Pembangunan, Keluarga, dan Nasib Anak Kita

Pembangunan, Keluarga, dan Nasib Anak Kita
Pembangunan, Keluarga, dan Nasib Anak Kita

Pendidikan pada akhirnya tak bisa dilepaskan dari kondisi atau pengaruh yang terjadi di masyarakat kita. Situasi sosial, politik, hingga ekonomi ikut serta membentuk kecenderungan, pola, dan model pendidikan kita. Yang tak kalah penting, lingkungan atau tempat anak-anak kita tumbuh ikut serta memberikan pengaruh dalam proses didaktik anak-anak kita.

Sudah semenjak rezim Orde Baru dimulai, Indonesia menancapkan program pembangunan berkelanjutan. Ide pembangunan didasarkan pada akses, hingga keadilan sosial belum merata. Secara filosofis konsep ini tak salah, tapi begitu sampai dengan tataran praktik, ada banyak yang berubah dari konsep pembangunan. Pembangunan cenderung sebagai sebuah alat untuk menghabiskan anggaran.

Miniatur itu bisa kita lihat dari Jakarta. Apa yang mau dibangun dari Jakarta yang sudah begitu sesak itu? Pada akhirnya kita pun melihat bahwa bongkar pasang, perbaikan jembatan, hingga jalan terus-menerus dilakukan, bahkan membangun gedung yang lebih dan lebih megah lagi seperti rencana pembangunan gedung DPR baru.

Di tataran daerah, otonomi merangsang daerah menjadi kota paling ramai dalam konteks pembangunan. Salah satu yang gencar adalah membawa pergeseran pabrik ke daerah-daerah. Akhirnya, kecenderungan negara kita sebagai negara agraris pun kian tergusur. Tak lagi ada suara bagi konsep agrarian kita. Ke depan, urusan agraria memang tak begitu diperhatikan secara serius dalam hal pendidikan bersifat agraris, hingga siapa pengelola agraria kita. Dampaknya jelas, Fakultas Pertanian makin sepi, sawah-sawah kita minim penggarap, para penyewa tanah banyak diuntungkan. Sementara, pekerja dan buruh tani menjadi semakin miris nasibnya.

Efek lain dari gelombang industrialisasi ke desa-desa adalah mengubah desa-desa menjadi modern. Baik dari tata kelola administrasi hingga urusan pembangunan. Pabrik-pabrik tak perlu lagi rumit mengurus segala macam perizinan; mereka tinggal menanam gedung dan usaha mereka di pinggir desa. Maka kita melihat gelombang migrasi para ibu rumah tangga dari pelosok-pelosok desa pun bergeser ke kota atau wilayah pinggiran kota untuk mengadu nasib menjadi pekerja industri.

Mengapa mereka berbondong-bondong untuk lekas meninggalkan pekerjaan domestik ke wilayah industrial? Mereka merasa pabrik dan kerja industrial lebih menjanjikan secara ekonomi maupun secara finansial. Selain itu, tuntutan ekonomi dan kebutuhan di era sekarang menuntut mereka bekerja bersama. Terlebih bila kita melihat era sekarang, pernikahan dini menjadi gejala yang populer di desa-desa. Umur mereka belum sepenuhnya layak kawin sesuai undang-undang perkawinan. Urusan kualitas dan masa depan keturunan mereka cenderung tak diperhatikan sepenuhnya.

Ketika ayah dan ibu bekerja di luar rumah, maka anak beserta seluruh pekerjaan pengasuhan cenderung dipasrahkan pada induk semang. Biasanya, kalau tidak dari keluarga sendiri, orangtua saat ini cenderung membayar atau menggaji para perawat anak. Ada pula yang kemudian mengambil pilihan pada lembaga pendidikan. Di antara model pengasuhan masyarakat di atas, banyak yang menjatuhkan pilihan mereka pada lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan berbasis setengah hari kini menangkap peluang itu. Banyak taman kanak-kanak yang menerapkan sistem pendidikan setengah hari penuh. Ada perasaan lega saat melihat anak-anak mereka ceria, terurus, dan tak merasa kesulitan dalam penanganan makan dan sebagainya. Pendidikan dengan pola demikian seperti telah menjadi tren dan populer di era sekarang. Meski mahal, orangtua merasa pendidikan seperti itu mampu menjembatani dunia yang berjarak dengan pengasuhan anak-anak.

Ada banyak orang yang ikut serta membentuk dunia pendidikan anak-anak kita

. Saat ini, keluarga bukan lagi faktor penentu utama dalam perkembangan dunia pendidikan anak-anak kita. Anak-anak kita sudah sibuk dari masa pendidikan pra sekolah atau PAUD hingga taman kanak-kanak dan pendidikan di tingkat dasar (SD). Selain waktu bersama keluarga menjadi semakin langka, anak-anak kita cenderung dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan segudang yang sebenarnya tak layak bagi anak-anak di usia mereka. Potensi stres hingga gangguan psikologis menjadi rentan bagi anak-anak kita.

Anak-anak kelahiran era 90-an masih bisa menikmati sawah, masih bisa bermain di sungai, masih bisa menari bersama di hujan tiba. Kita juga masih menikmati seluruh permainan yang bersinggungan dengan alam. Permainan-permainan itu diciptakan sendiri oleh anak-anak dan dimainkan oleh mereka di alam bebas. Sementara sekarang ini, rumah sudah penuh dengan pagar dan teralis besi, main pun dilarang, jarang berjumpa dengan tetangga.

Di sekolah, permainan mereka tak begitu leluasa. Yang ada mereka dekat dengan play station, gadget, hingga game yang ada di telepon pintar mereka. Selain tak lagi menyentuh alam dan hangatnya udara di desa-desa, kehidupan anak-anak kita seperti padat bak orang dewasa. Ruang dan waktu bermain anak-anak kita pun, akibatnya, demikian tergerus.

Di buku Tindjauan Dalam Ilmu Djiwa Anak-Anak (1952) M.Crijns dan Reksosiswojo

menuliskan bahwa dengan permainan itu anak2 bergaul dengan orang lain, mereka beladjar mengindahkan hak2 orang lain, mereka belajar menjesuaikan diri dengan pandangan orang lain jang agak objektif, mereka beladjar menghasilkan sesuatu dengan kerdjasama. Factor-factor itu perlu sekali bagi pendidikan di sekolah.

Beban Belajar

Waktu yang semakin sempit untuk bermain dan mengamati lingkungan sosial membuat mereka semakin tak bisa membaca sepenuhnya tentang dirinya, lingkungannya, dan orang-orang di sekitarnya.

Adi Negoro pernah menulis buku berjudul Ilmu Djiwa Sosial dan Seseorang

(1952) yang menekankan tentang pentingnya anak-anak mengenal dirinya. Pada bagian pembuka ia menulis: Gnothi Seauton, dua kata itulah yang tertulis di depan tjandi Apollo di Delphi (Junani) dan sudah ribuan tahun kata jang berhikmat itu menarik perhatian manusia disegala tempat dan disegala zaman. Apa arti kata Junani itu?

Tidak lain dari: “Kenalilah dirimu! Kalau kamu mengenal diri, kamu menguasai dan tidak tunduk pada hawa nafsu, tidak mendjadi budak dari nafsu, sebaliknya kalau kamu tidak mengenal diri, kamu mendjadi budak hawa nafsu dan mendjadi budak orang lain.

 

Sumber :

https://thriveglobal.com/stories/the-internet-is-the-place-where-we-can-get-everything-that-we-need/

Pendidikan

Kriteria Manajer Proyek Yang Efektif

Kriteria Manajer Proyek Yang Efektif

Kriteria Manajer Proyek Yang Efektif

Kriteria Manajer Proyek Yang Efektif
Kriteria Manajer Proyek Yang Efektif

Nobody’s Perfect, kata ini memang menunjukkan sebuah realitas.

Bagaimanapun tuntutan kesempurnaan kerja seorang manajer proyek yang efektif tidak dapat seratus persen terwujud. Akan tetapi ada beberapa criteria dan usaha pendekatan ke arah sana. Grey&Larson (2006) mendeskripsikan beberapa indicator, ciri dan kualitas seorang manajer proyek yang efektif. Beberapa kontradiksi yang dihadapkan oleh manajer proyek antara lain:

  • Inovasi dan menjaga stabilitas.
  • Menetapkan gambaran dan terlibat langsung di lapangan.
  • Mendorong individu tetapi juga menekan tim.
  • Campur tangan atau tidak.
  • Fleksibel tapi ketat.
  • Loyalitas tim dan loyalitas organisasi.

Kontradiksi ini memerlukan kecakapan khusus

bagi manajer proyek untuk mengambil posisi mereka dan menempatkan keputusan sesuai dengan keadaan. Terpaku pada suatu prinsip yang ketat tidak akan menyelesaikan masalah, karena manajer proyek tidak bekerja sendiri. Dalam buku yang sama Grey&Larson (2006) juga menggambarkan ciri-ciri dari seorang manajer proyek yang efektif. Diantaranya adalah:

  1. Pemikir Sistem, kemampuan dalam berpikir untuk mengelola interaksi antar komponen dan sumber daya proyek yang berbeda-beda, karena tidak bisa dikatakan efektif apabila penyelesaian masalah hanya secara parsial. Hal ini akan mempersulit sang manajer untuk mengambil keputusan.
  2. Integritas Pribadi, membangun dan meningkatkan kemampuan diri menjadi sangat penting dilakukan terlebih dahulu sebelum meningkatkan kemampuan anggota tim.
  3. Proaktif, bedakan dengan reaktif. Para manajer proyek dituntut tidak hanya akan melihat peristiwa yang telah terjadi (reaktif), akan tetapi juga selalu meneropong masa depan dan berjuang keras menemukan masa depan proyek (Kartajaya, 2003)
  4. Toleransi yang tinggi terhadap Stress, mengingat proyek merupakan hal yang rumit dan kompleks, pasti akan menimbulkan tekanan terhadap orang yang bebankan tanggungjawab kepadanya. Manajer proyek harus mampu mengelola kondisi psikologis mereka agar dapat bertahan dalam tekanan.
  5. Perspektif Bisnis Umum, seorang manajer proyek harus memahami dasar-dasar bisnis dari disiplin teknis yang berbeda-beda sebagai kerja antar fungsional.
  6. Komunikator yang baik, telah dijelaskan sebelumnya.
  7. Manajemen waktu yang efektif, telah dijelaskan sebelumnya.

Politikus Mahir

strategi dalam menghadapi banyak orang dan mendapatkan dukungan dari semua pihak merupakan cirri penting manajer proyek yang sukses.

Optimis, Slater (1999) dalam bukunya Saving Big Blue mengatakan “Anda dalam kesulitan Besar jika Menganggap anda Sudah Selesai”. Maksud dari kata-kata ini ialah, masalah-masalah yang sudah diselesaikan tidak bisa kita lepas begitu saja, karena pada nantinya kan bermunculan masalah-masalah baru di dalam pelaksanaan proyek. Kepercayaan diri terhadap proyek, mampu membuat seorang manajer proyek melakukan inovasi dan mengubah strategi proyek ke arah yang lebih baik tanpa meninggalkan perencanaan yang telah ditetapkan.

Baca Juga :